Category Archives: Lesson to learn

Dunia Digital vs Dunia Nyata


Disadur dari artikel Prof. Rhenald Kasali http://www.rumahperubahan.co.id/blog/2017/06/19/dunia-digital-vs-dunia-nyata-jawa-pos/

Dunia Digital vs Dunia Nyata – Jawa PosDalam banyak kesempatan, saya mendengar kuatnya anggapan bahwa dunia maya (digital), berbeda dengan dunia nyata. Dunia digital dianggap sebagai “alam halus”, yang belum, atau bahkan sulit disentuh. Kalaupun dipakai, hanya sebatas sebagai alat pendukung saja.  Sementara, dunia nyata adalah dunia kita sehari-hari.

Bahkan ada yang beranggapan itu adalah dunianya para millenials, anak-anak mereka. Juga tak dapat dihindari yang berpikir, bisnisnya (core-nya) sama sekali tak perlu bersentuhan dengan dunia digital.

Misalnya saja ada yang mengatakan, “kami ini bisnisnya semen, bukan retail.”  Dan kalau diteruskan lagi “kami”nya bisa panjang: kami jual mobil, bukan hiburan, kami pupuk bukan hotel, kami tekstil bukan oleh-oleh…dan seterusnya. Seakan-akan dunia maya itu hanya berlaku bagi retail, hiburan dan sejenisnya.

Mungkin anggapan semacam ini menguat lantaran sering melihat anak-anak bermain game.  Jadi, dunia digital hanya ada dalam game, bukan kehidupan nyata.

Anggapan seperti itu, kalau dibiarkan tentu bakal menyesatkan dan menyulitkan banyak perusahaan yang sudah bagus. Ini akan membuat kita   “gagal paham”.  Ya, gagal memahami perubahan-perubahan besar yang tengah bergulir di sekitar kita.

Kini sejak manusia melewati tahapan connectivity melalui internet, digital dan dunia nyata menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Ini buktinya.

Masih ingat dengan seorang perwira TNI yang memecahkan kaca bus di jalan tol Cikunir, Mei 2017 lalu? Kasus yang ada di dunia nyata itu mungkin tak akan terungkap kalau tidak ada sebuah akun Facebook yang meng-upload kejadian tersebut.

Menurut akun itu, sang perwira tadi mengendarai mobil di ruas jalan tol yang macet. Mungkin jengkel dengan kemacetan, dan perwira itu merasa jalannya terhalang oleh bus, ia dengan tongkatnya memukul pecah kaca samping bus.

Semula perwira tadi mengaku mobilnya diserempet bus. Namun, tak ada bukti soal serempetan itu. Akun itu menulis, “Ngaku spionnya kesenggol sampai lecet, tetapi di rekaman tidak ada lecet sama sekali. Diminta pertanggungjawaban malah kabur.” Unggahan tersebut kemudian ramai dibicarakan netizen.

Puspen TNI merespon terlebih dahulu. Melalui akun instagram, Puspen TNI meminta maaf kepada PO bus tersebut. Lalu, menyusul sang perwira juga mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Ia siap bertanggung jawab untuk mengganti kerugian bus.

Ini bukti betapa dunia digital kita sudah menyatu dengan dunia nyata.

Mau bukti lainnya?

Masih ingat kasus seorang pegawai perempuan yang bekerja di Mahkamah Agung (MA) yang marah-marah dan mencakar Aiptu Sutisna saat petugas polisi itu hendak menilangnya?  Sutisna tidak melawan, ia hanya menghindar. Ini peristiwa yang terjadi di dunia nyata.

Adegan amukan pegawai MA itu kemudian muncul di dunia maya. Seorang netizen merekamnya dan meng-upload videonya ke akun Facebook. Peristiwa itu pun menjadi viral.

Berkat sikapnya yang tidak melawan, Aiptu Sutisna mendapatkan apresiasi bukan hanya dari masyarakat, tetapi juga dari Kepolisian RI. Sementara, sang pegawai MA tadi dimutasi dari jabatannya di Eselon IV menjadi staf di PTUN Pekanbaru.

Pengalaman Sandvik

Saya tadi menyinggung soal betapa repotnya kalau gagal paham menyatunya dunia maya dengan dunia nyata sampai berlarut-larut. Sebab di belahan dunia sana, masyarakatnya—terutama kalangan korporasi—sudah menikmati hasil dari penyatuan dua dunia tersebut.

Salah satu contohnya Sandvik Coromant (SC), perusahaan asal Swedia yang menjadi produsen utama cemented carbide dunia. Cemented carbide adalah material yang biasa dipakai pada mesin pemotong material logam non baja dan banyak dipakai oleh industri manufaktur. Bisnis SC sempat terpuruk lantaran hadirnya produk China yang lebih murah.

Lalu, apa yang dilakukan SC?

SC lalu melengkapi mesin pemotongnya dengan sensor. Sensor itu berfungsi memantau kinerja cemented carbide. Kapan alat itu terlalu stres, sudah aus dan tiba waktunya untuk diganti. Data dari sensor tersebut kemudian dikirim ke server, dan oleh server didistribusikan ke pihak-pihak yang mesti tahu soal ini. Di antaranya, general manager, manajer atau supervisor di pabrik.

Bagi banyak pabrik, informasi semacam ini sangat penting. Jangan sampai pabrik berhenti beroperasi gara-gara mesin pemotong non logamnya rusak. Biayanya untuk shutdown dan menghidupkan kembali bisa sangat mahal.

Informasi semacam inilah yang kemudian menjadi nilai lebih bagi SC ketimbang produk sejenis dari China. Pelanggan pun beralih dari produk buatan China ke buatan SC.

Itu contoh kasus di dunia korporasi yang memakai teknologi untuk menggabungkan dunia digital (informasi dari sensor) dengan dunia nyata (pekerjaan di pabrik). Kasus lainnya masih banyak.

Misalnya, ada Rolls Royce yang memasang sensor di mesin pesawat terbang. Ketika pesawat masih berada di udara, kondisi mesin sudah terpantau. Saat mendarat, kalau ada komponen mesin yang perlu diganti, itu bisa langsung dilakukan tanpa pesawat perlu masuk hanggar. Jadi pesawat bisa langsung terbang lagi. Ini tentu meningkatkan kinerja operasional pesawat.

Dunia 4.0

Dalam lingkungan masyarakat, para petugas layanan publik bisa memantau sejumlah kejadian dengan adanya CCTV. Ingat dengan pebalap MotoGP Nicky Hayden yang meninggal dunia akibat tertabrak mobil? Melalui CCTV, pihak kepolisian mendapati bahwa Nicky Hayden lalai.

Ia bersepeda sambil mendengarkan musik melalui iPod. Akibatnya ia tak mendengar suara-suara yang ada di sekitarnya, termasuk mobil-mobil yang lalu lalang di perempatan jalan. Salah satu mobil itulah kemudian kemudian menabrak Hayden.

Belajar dari kejadian itu, kita mungkin bisa memprakarsai gerakan no gadget saat melakukan aktivitas di area-area publik. Kini kita sudah memasuki dunia versi 4.0. Dunia maya atau digital dan dunia nyata sudah menyatu. Namun, banyak musibah terjadi akibat masyarakat kita masih merasa seolah-olah berada di dua dunia yang berbeda.

Misalnya, terus saja memakai smartphone saat menyetir mobil atau mengendarai sepeda motor—sesuatu yang banyak kita jumpai di masyarakat kita. Juga, terus memakai smarphone saat tengah berjalan di trotoar atau area publik lainnya. Ini fenomena yang ada di mana-mana. Mereka berjalan seenaknya sambil matanya tak henti menatap layar smartphone dan tangannya terus mengetik.

Padahal, sudah banyak video yang menayangkan orang-orang yang kesandung, terperosok lubang karena terlalu asyik dengansmartphone-nya. Atau, menabrak orang lain yang melintas di hadapannya, menabrak tiang atau pintu, bahkan ketabrak sepeda, sepeda motor hingga mobil akibat menyebrang jalan secara sembarangan.

Di Jerman, seorang petugas pengatur sinyal dituding bertanggung jawab atas kecelakaan kereta yang menyebabkan 150 orang luka-luka dan menewaskan 11 orang. Menurut jaksa, sesaat sebelum kecelakaan terjadi, petugas tadi asyik bermain game online via ponselnya. Akibatnya ia menekan tombol yang salah. Informasi yang salah itulah yang diterima oleh dua masinis dari dua kereta berbeda. Dan, kecelakaan pun tak terelakkan.

Di dunia 4.0, era di mana semua serba terkoneksi, kita tak mau ada masyarakat yang gagal paham bahwa dunia digital sudah menyatu dengan dunia nyata. Sebab risikonya bisa sangat fatal.

Rhenald Kasali

Founder Rumah Perubahan

Mooryati Soedibyo, Dian Sastro, dan Metakognisi Susi Pudjiastuti by Rheinald Kasali


Rhenald Kasali
@Rhenald_Kasali

Saya kebetulan mentor bagi dua orang ini: Dian Sastro dan Mooryati Soedibyo. Akan tetapi, pada Susi Pudjiastuti yang kini menjadi menteri, saya justru belajar.

Ketiganya perempuan hebat, tetapi selalu diuji oleh sebagian kecil orang yang mengaku pandai. Entah ini stereotyping, atau soal buruknya metakognisi bangsa. Saya kurang tahu persis.

Mooryati Soedibyo

Sewaktu diterima di program doktoral UI yang pernah saya pimpin, usianya saat itu sudah 75 tahun. Namun, berbeda dengan mahasiswa lain yang datang pakai jins, dia selalu berkebaya. Anda tentu tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkebaya, bukan?

Mooryati Soedibyo, pengusaha jamu dan kosmetika tradisional (KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Akan tetapi, ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain: self discipline. Sampai hari ini, dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal, saat itu ia salah satu pimpinan MPR.

Memang ia tampak sedikit kewalahan “bersaing” dengan rekan kuliahnya yang jauh lebih muda. Akan tetapi, rekan-rekan kuliahnya mengakui,  kemajuannya cepat. Dari bahasa jamu ke bahasa strategic management dan science yang banyak aturannya.

Teman-teman belajarnya bersaksi: “Pukul 08.00 malam, kami yang memimpin diskusi. Tetapi pukul 24.00, yang muda mulai ngantuk, Ibu Moor yang memimpin. Dia selalu mengingatkan tugas harus selesai, dan tak boleh asal jadi.”

Masalahnya, ia pemilik perusahaan besar, dan usianya sudah lanjut. Ada stereotyping dalam kepala sebagian orang. Sosok seperti ini jarang ada yang mau kuliah sungguhan untuk meraih ilmu. Nyatanya, kalangan berduit lebih senang meraih gelar doktor HC (honoris causa) yang jalurnya cukup ringan.

Akan tetapi, Mooryati tak memilih jalur itu. Ia ingin melatih kesehatan otaknya, mengambil risiko dan lulus 4 tahun kemudian. Hasil penelitiannya menarik perhatian Richard D’aveni (Tuck School-USA), satu dari 50 guru strategi teratas dunia. Belakangan, ia juga sering diminta memaparkan kajian risetnya di Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

Meski diuji di bawah guru besar terkemuka Prof Dorodjatun Kuntjoro Jakti, kadang saya masih mendengar ucapan-ucapan miring dari orang-orang yang biasa menggunakan kacamata buram dan lidahnya pahit. Ada saja orang yang mengatakan ia “diluluskan” dengan bantuan, “sekolahnya hanya dua tahun”, dan seterusnya. Anehnya, kabar itu justru beredar di kalangan perempuan yang tak mau tahu keteladanan yang ia tunjukkan. Kadang ada juga yang merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya terjadi.

Akan tetapi, ada satu hal yang sulit mereka sangkal. Perempuan yang meraih doktor pada usia 79 tahun ini berhasil mewujudkan usahanya menjadi besar tanpa fasilitas. Perusahaannya juga go public. Padahal, yang menjadi dosennya saja belum tentu bisa melakukan hal itu, bahkan membuat publikasi ilmiah internasional saja tidak. Namun, Bu Moor juga berhasil mengangkat reputasi jamu di pentas dunia.

Dian Sastro

Dia juga mahasiswi saya yang keren. Sewaktu diterima di program S-2 UI, banyak juga yang bertanya: apa benar artis mau bersusah payah belajar lagi di UI?

Anak-anak saya di UI tahu persis bahwa saya memang cenderung bersahabat, tetapi mereka juga tahu sikap saya: “no bargain on process and quality“.

Model dan artis peran Dian Sastrowardoyo (KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI)

Dian, sudah artis, dan sedang hamil pula saat mulai kuliah. Urusannya banyak: keluarga, film, dan seabrek tugas. Namun lagi-lagi, satu hal ini jarang dimiliki yang lain: self discipline. Ia tak pernah abai menjalankan tugas.

Sebulan yang lalu, setelah lulus dengan cum laude dari MM UI, ia berbagi pengalaman hidupnya di program S-1 pada kelas yang saya asuh.

“Saat ayah saya meninggal dunia, ibu saya berujar: kamu bukan anak orang kaya. Ibu tak bisa menyekolahkan kalau kamu tidak outstanding,” ujarnya.

Ia pun melakukan riset terhadap putri-putri terkenal. Di situ ia melihat nama-nama besar yang tak lahir dari kemudahan. “Saya tidak cantik, dan tak punya apa-apa,” ujarnya.

Dengan uang sumbangan dari para pelayat ayahnya, ia belajar di sebuah sekolah kepribadian. Setiap pagi, ia juga melatih disiplin, jogging berkilo-kilometer dari Jatinegara hingga ke Cawang, ikut seni bela diri. “Mungkin kalian tak percaya karena tak pernah menjalaninya,” ujarnya.

Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi. Dian lulus cum laude dari S-2 UI, dari ilmu keuangan pula, yang sarat matematikanya. Padahal, bidang studi S-1 Dian amat berjauhan: filsafat.

Metakognisi Susi

Sekarang kita bahas menteri kelautan dan perikanan yang ramai diolok-olok karena “sekolahnya”. Beruntung, banyak juga yang membelanya.

Khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya. Ia terlalu hebat. Ia justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah “self driver” sejati, yang bukan putus sekolah, melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini, saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu?

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (SABRINA ASRIL/KOMPAS.com)

Akan tetapi, berbeda dengan kebanyakan orangtua yang membiarkan anaknya menjadi “passenger“, ayah Susi justru marah besar. Pada usia muda, di pesisir selatan yang terik, Susi  memaksa hidup mandiri. Ditemani sopir, ia menyewa truk dari Pangandaran, membawa ikan dan udang, dilelang di Jakarta. Hal itu dijalaninya selama bertahun-tahun, seorang diri.

Saat saya mengirim mahasiswa pergi “melihat pasar” ke luar negeri yang terdiri dari tiga orang untuk satu negara, Susi membujuk saya agar cukup satu orang satu negara. Saya menurutinya (kisah mereka bisa dibaca dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor).

Dari usaha perikanannya itu, ia jadi mengerti penderitaan yang dialami nelayan. Ia juga belajar seluk-beluk logistik ikan, menjadi pengekspor, sampai terbentuk keinginan memiliki pesawat agar ikan tangkapan nelayan bisa diekspor dalam bentuk hidup, yang nilainya lebih tinggi. Dari ikan, jadilah bisnis carter pesawat, yang di bawahnya ada tempat penyimpanan untuk membawa ikan segar.

Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa hanya dibangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan rahasia alam. Kita juga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Akan tetapi, tanpa kemampuan nonkognisi, semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi metakognisi: faktor pembentuk yang paling penting di balik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia, dan praktisi-praktisi andal. Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek, berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari “pintu” adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang  produktif.

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, bijak mengatasi masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan lebih produktif dan penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja, kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekadar mampu mendengar, tetapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif.

Ketiga orang itu mungkin tak sehebat Anda yang senang melihat kecerdasan orang dari pendekatan kognitif yang bermuara pada angka, teori, ijazah, dan stereotyping. Akan tetapi, saya harus mengatakan, studi-studi terbaru menemukan, ketidakmampuan meredam rasa tidak suka atau kecemburuan pada orang lain, kegemaran menyebarkan fitnah dan rasa benar sendiri, hanya akan menghasilkan kesombongan diri.

Anak-anak kita pada akhirnya belajar dari kita, dan apa yang kita ucapkan dalam kesaharian kita juga akan membentuk mereka, dan masa depan mereka.

 

 

*disadur dari http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/11/03/054500426/Mooryati.Soedibyo.Dian.Sastro.dan.Metakognisi.Susi.Pudjiastuti

Excellent tips by Warrent Buffet


Inilah Orang terkaya no 3 di dunia, Warren Buffet memberi nasehat :

“Jauhkan dirimu dari pinjaman bank atau kartu kredit dan berinvestasilah dengan apa yg kau miliki”, serta ingat :

1. Uang tidak menciptakan manusia, manusialah yang menciptakan uang.

2. Hiduplah sederhana sebagaimana dirimu sendiri.

3. Jangan melakukan apapun yang dikatakan orang, dengarkan mereka, tapi lakukan apa yang baik saja.

4. Jangan memakai merk, pakailah yang benar˛ nyaman untukmu.

5. Jangan habiskan uang untuk hal-hal yang tidak benar-benar penting.

6. With money:
You can buy a house, but not a home.
You can buy a clock, but not time.
You can buy a bed, but not sleep.
You can buy a book, but not knowledge.You can get a position, but not respect.
You can buy blood, but not life.
So find your happiness inside you.

7. Jika itu telah berhasil dalam hidupmu, berbagilah dan ajarkanlah pada orang lain

“Orang Yang Berbahagia Bukanlah Orang Yang Hebat Dalam Segala Hal, Tapi Orang Yang Bisa Menemukan Hal Sederhana Dalam Hidupnya dan Mengucap Syukur”

 

IMG-20130220-WA0000

Tagged , , , , , , , ,

Pentingnya kalimat penyemangat ketika anak berangkat sekolah


Bagi para netter yang sudah punya anak, terutama yang sudah bersekolah. Pasti setiap hari “sibuk” untuk meyiapkan hal-hal yang dibutuhkan oleh anak-anak untuk sekolah.

Selain kebutuhan barang-barang pribadinya, seperti buku-buku, sarapan, snack, air minum sampai baju ganti sebenarnya ada satu lagi “bekal” untuk anak-anak ke sekolah.

Mungkin netter yang sudah dewasa sadar atau tidak sadar, waktu kita kecil dahulu, setiap kali berangkat sekolah kita dapat “bekal” dari orang tua kita berupa kalimat, misalnya “belajar yang pintar ya”, “hati-hati di jalan” sampai dengan “jangan jajan sembarangan”.

Sadar atau tidak sadar kalimat tersebut pasti akan diingat terus, karena frekwensinya yang berulang setiap pagi.

Bagi beberapa orang bisa jadi menggangap hal itu adalah biasa, tetapi bagi anak-anak kecil walaupun hanya sepatah dua patah kata, tetapi maknanya lebih dari cukup.

Untuk saya sendiri saya sudah membiasakan diri mengucapkan “Have fun… have a nice day… don’t forget to pray….” sebelum atau ketika saya mengantarkan anak-anak sekolah.

Memang bagi anak-anak yang masih balita kadang tidak mengerti apa yang diucapkan.

Tetapi balik lagi, ketika diucapkan berulang ada keingintahuan dari mereka sehingga mereka bertanya, nah kesempatan inilah kita gunakan untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan kalimat-kalimat tersebut.

Dalam konteks kalimat saya diatas, maksudnya adalah ketika mereka di sekolah, have fun.. apapun yang terjadi, walau pelajarannya sulit sekalipun :D, have a nice day… sebuah “doa” agar  mendapatkan hari yang baik di sekolah, don’t forget to pray… at least… say “Bismillah..” before do anything .. like eat, read, learn, etc..

Ya semoga dengan “bekal” kalimat tersebut diatas, hari mereka disekolah akan menyenangkan…

Apa kalimat penyemangatmu?

Tagged , ,

10 hal yang dilakukan oleh Atasan Yang Baik


Dapet email bagus dari milisnya ibu betty

Sepertinya saya masih harus banyak belajar

 

———————————————

10 things great bosses do

By
Steve Tobak

– Help the company achieve its strategic and operating goals by making
smart business decisions and managing their team effectively.

– Entrust their employees with as much responsibility as their
capabilities will allow and hold them accountable for the same.

– Behave like a mature adult — genuine and empathetic — even when
their employees or their management are acting out like spoiled
children.

– Provide their employees with the tools, training, and support they
need to effectively achieve challenging but reasonably attainable
goals.

– Promote a can-do, customer service attitude with customers and
stakeholders by walking the talk and leading by example.

– Promote their team’s accomplishments and take the heat for their failures.

– Provide genuine feedback, both good and bad, to their employees,
peers, and management. Request the same from them.

– Work their tail off and be hands-on when necessary. If they don’t,
they can’t expect anybody else to do it either.

– Don’t compromise their ethical principles in the name of “the ends
justify the means” or for any other reason.

– Strike a balance between shielding their folks from the ripples of
dysfunctional management and openly communicating events that may
affect them.

Overall, the best managers create a work environment where people feel
challenged, do their best, and are held accountable for meeting their
commitments. But most importantly, they’re key components in an
organization that exists to serve its customers and shareholders.
We’re all happiest working for a successful company.

 

Artikel lengkapnya bisa di baca di
http://www.cbsnews.com/8301-505125_162-57444143/10-things-great-bosses-do/?tag=nl.e713

Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan


“Aku ingin menjadi orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.”

Di kelasnya ada 50 orang murid, setiap kali ujian, anak perempuanku
tetap mendapat ranking ke-23. Lambat laun membuat dia mendapatkan
nama panggilan dengan nomor ini, dia juga menjadi murid kualitas
menengah yang sesungguhnya. Sebagai orangtua, kami merasa nama
panggilan ini kurang enak didengar, namun anak kami ternyata
menerimanya dengan senang hati. Suamiku mengeluhkan ke padaku, setiap
kali ada kegiatan di perusahaannya atau pertemuan alumni sekolahnya,
setiap orang selalu memuji-muji “Superman cilik” di rumah
masing-masing, sedangkan dia hanya bisa menjadi pendengar saja.

Anak keluarga orang, bukan saja memiliki nilai sekolah yang menonjol,
juga memiliki banyak keahlian khusus. Sedangkan anak nomor 23 di
keluarga kami tidak memiliki sesuatu pun untuk ditonjolkan. Dari itu,
setiap kali suamiku menonton penampilan anak-anak berbakat luar biasa
dalam acara televisi, timbul keirian dalam hatinya sampai matanya
bersinar-sinar. Kemudian ketika dia membaca sebuah berita tentang
seorang anak berusia 9 tahun yang masuk perguruan tinggi, dia bertanya
dengan hati pilu kepada anak kami: Anakku, kenapa kamu tidak terlahir
sebagai anak dengan kepandaian luar biasa? Anak kami menjawab: Itu
karena ayah juga bukan seorang ayah dengan kepandaian luar biasa.
Suamiku menjadi tidak bisa berkata apa-apa lagi, saya tanpa
tertahankan tertawa sendiri.

Pada pertengahan musim gugur, semua sanak keluarga berkumpul bersama
untuk merayakannya, sehingga memenuhi satu ruangan besar di restoran.
Topik pembicaraan semua orang perlahan-lahan mulai beralih kepada anak
masing-masing. Dalam kemeriahan suasana, anak-anak ditanyakan apakah
cita-cita mereka di masa mendatang? Ada yang menjawab akan menjadi
pemain piano, bintang film atau politikus, tiada seorang pun yang
terlihat takut mengutarakannya di depan orang banyak, bahkan anak
perempuan berusia 4½ tahun juga menyatakan kelak akan menjadi seorang
pembawa acara di televisi, semua orang bertepuk tangan mendengarnya.
Anak perempuan kami yang berusia 15 tahun terlihat sibuk sekali sedang
membantu anak-anak kecil lainnya makan. Semua orang mendadak teringat
kalau hanya dia yang belum mengutarakan cita-citanya kelak. Di bawah
desakan orang banyak, akhirnya dia menjawab dengan sungguh-sungguh:
Kelak ketika aku dewasa, cita-cita pertamaku adalah menjadi seorang
guru TK, memandu anak-anak menyanyi, menari dan bermain-main.

Demi menunjukkan kesopanan, semua orang tetap memberikan pujian,
kemudian menanyakan akan cita-cita keduanya. Dia menjawab dengan
besar hati: Saya ingin menjadi seorang ibu, mengenakan kain celemek
bergambar Doraemon dan memasak di dapur, kemudian membacakan cerita
untuk anak-anakku dan membawa mereka ke teras rumah untuk melihat
bintang-bintang. Semua sanak keluarga tertegun dibuatnya, saling
pandang tanpa tahu akan berkata apa lagi. Raut muka suamiku menjadi
canggung sekali.

Sepulangnya ke rumah, suamiku mengeluhkan ke padaku, apakah aku akan
membiarkan anak perempuan kami kelak menjadi guru TK? Apakah kami
tetap akan membiarkannya menjadi murid kualitas menengah? Sebetulnya,
kami juga telah berusaha banyak. Demi meningkatkan nilai sekolahnya,
kami pernah mencarikan guru les pribadi dan mendaftarkannya di tempat
bimbingan belajar, juga membelikan berbagai materi belajar untuknya.
Anak kami juga sangat penurut, dia tidak membaca komik lagi, tidak
ikut kelas origami lagi, tidur bermalas-malasan di akhir minggu juga
tidak dilakukan lagi. Bagai seekor burung kecil yang kelelahan, dia
ikut les belajar sambung menyambung, buku pelajaran dan buku latihan
dikerjakan tanpa henti. Namun biar bagaimana pun dia tetap seorang
anak-anak, tubuhnya tidak bisa bertahan lagi dan terserang flu berat.
Biar sedang diinfus dan terbaring di ranjang, dia tetap bersikeras
mengerjakan tugas pelajaran, akhirnya dia terserang radang paru-paru.
Setelah sembuh, wajahnya terlihat kurus banyak. Akan tetapi ternyata
hasil ujian semesternya membuat kami tidak tahu mau tertawa atau
menangis, tetap saja nomor 23.

Kemudian, kami juga mencoba untuk memberikan penambah gizi dan
rangsangan hadiah, setelah berulang-ulang menjalaninya, ternyata wajah
anak perempuanku semakin pucat saja. Apalagi, setiap kali akan ujian,
dia mulai tidak bisa makan dan tidak bisa tidur, terus mencucurkan
keringat dingin, terakhir hasil ujiannya malah menjadi nomor 33 yang
mengejutkan kami. Aku dan suamiku secara diam-diam melepaskan aksi
menarik bibit ke atas demi membantunya tumbuh ini. Dia kembali pada
jam belajar dan istirahatnya yang normal, kami mengembalikan haknya
untuk membaca komik, mengijinkannya untuk berlangganan majalah “Humor
anak-anak” dan sejenisnya, sehingga rumah kami menjadi tenteram
kembali. Kami memang sangat sayang pada anak kami ini, namun kami
sungguh tidak mengerti akan nilai sekolahnya.

Pada akhir minggu, teman-teman sekerja pergi rekreasi bersama. Semua
orang mempersiapkan lauk terbaik dari masing-masing, dengan membawa
serta suami dan anak untuk piknik. Sepanjang perjalanan penuh dengan
tawa dan guyonan, ada anak yang bernyanyi, ada juga yang memperagakan
karya seni pendek. Anak kami tiada keahlian khusus, hanya terus
bertepuk tangan dengan gembira. Dia sering kali lari ke belakang
untuk menjaga bahan makanan. Merapikan kembali kotak makanan yang
terlihat agak miring, mengetatkan tutup botol yang longgar atau
mengelap jus sayuran yang bocor ke luar. Dia sibuk sekali bagaikan
seorang pengurus rumah tangga cilik.Ketika makan terjadi satu kejadian
di luar dugaan. Ada dua orang anak lelaki, satunya adalah bakat
matematika, satunya lagi adalah ahli bahasa Inggeris. Kedua anak ini
secara bersamaan menjepit sebuah kue beras ketan di atas piring, tiada
seorang pun yang mau melepaskannya, juga tidak mau membaginya. Walau
banyak makanan enak terus dihidangkan, mereka sama sekali tidak mau
peduli. Orang dewasa terus membujuk mereka, namun tidak ada hasilnya.
Terakhir anak kami yang menyelesaikan masalah sulit ini dengan cara
sederhana yaitu lempar koin untuk menentukan siapa yang menang.

Ketika pulang, jalanan macet dan anak-anak mulai terlihat gelisah.
Anakku terus membuat guyonan dan membuat orang-orang semobil tertawa
tanpa henti. Tangannya juga tidak pernah berhenti, dia mengguntingkan
banyak bentuk binatang kecil dari kotak bekas tempat makanan, membuat
anak-anak ini terus memberi pujian. Sampai ketika turun dari mobil
bus, setiap orang mendapatkan guntingan kertas hewan shio
masing-masing. Ketika mendengar anak-anak terus berterima kasih,
tanpa tertahankan pada wajah suamiku timbul senyum bangga.

Sehabis ujian semester, aku menerima telpon dari wali kelas anakku.
Pertama-tama mendapatkan kabar kalau nilai sekolah anakku tetap
kualitas menengah. Namun dia mengatakan ada satu hal aneh yang hendak
diberitahukannya, hal yang pertama kali ditemukannya selama 30 tahun
mengajar. Dalam ujian bahasa ada sebuah soal tambahan, yaitu siapa
teman sekelas yang paling kamu kagumi dan alasannya. Selain anakku,
semua teman sekelasnya menuliskan nama anakku.
Alasannya sangat banyak: antusias membantu orang, sangat memegang
janji, tidak mudah marah, enak berteman, dan lain-lain, paling banyak
ditulis adalah optimis dan humoris. Wali kelasnya mengatakan banyak
usul agar dia dijadikan ketua kelas saja. Dia memberi pujian: Anak
anda ini, walau nilai sekolahnya biasa-biasa saja, namun kalau
bertingkah laku terhadap orang, benar-benar nomor satu.

Saya berguyon pada anakku, kamu sudah mau jadi pahlawan. Anakku yang
sedang merajut selendang leher terlebih menundukkan kepalanya dan
berpikir sebentar, dia lalu menjawab dengan sungguh-sungguh: “Guru
pernah mengatakan sebuah pepatah, ketika pahlawan lewat, harus ada
orang yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Dia pelan-pelan
melanjutkan: “Ibu, aku tidak mau jadi pahlawan, aku ingin jadi orang
yang bertepuk tangan di tepi jalan.” Aku terkejut mendengarnya dan
mengamatinya dengan seksama.

Dia tetap diam sambil merajut benang wolnya, benang warna merah muda
dipilinnya bolak balik di jarum bambu, sepertinya waktu yang berjalan
di tangannya mengeluarkan kuncup bunga. Dalam hatiku terasa hangat
seketika. Pada ketika itu, hatiku tergugah oleh anak perempuan yang
tidak ingin menjadi pahlawan ini. Di dunia ini ada berapa banyak
orang yang bercita-cita ingin menjadi pahlawan, namun akhirnya menjadi
seorang biasa di dunia fana ini. Jika berada dalam kondisi sehat,
jika hidup dengan bahagia, jika tidak ada rasa bersalah dalam hati,
mengapa anak-anak kita tidak boleh menjadi seorang biasa yang baik
hati dan jujur.

Jika anakku besar nanti, dia pasti akan menjadi seorang isteri yang
berbudi luhur, seorang ibu yang lemah lembut, bahkan menjadi seorang
teman kerja yang suka membantu, tetangga yang ramah dan baik. Apalagi
dia mendapatkan ranking 23 dari 50 orang murid di kelasnya, kenapa
kami masih tidak merasa senang dan tidak merasa puas? Masih ingin
dirinya lebih hebat dari orang lain dan lebih menonjol lagi? Lalu
bagaimana dengan sisa 27 orang anak-anak di belakang anakku? Jika
kami adalah orangtua mereka, bagaimana perasaan kami?

Anakmu bukan milikmu.
Mereka putra putri sang Hidup yang rindu pada diri sendiri,
Lewat engkau mereka lahir, namun tidak dari engkau,
Mereka ada padamu, tapi bukan hakmu.
Berikan mereka kasih sayangmu, tapi jangan sodorkan bentuk pikiranmu,
Sebab mereka ada alam pikiran tersendiri.
Patut kau berikan rumah untuk raganya,
Tapi tidak untuk jiwanya,
Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan, yang tiada dapat
kau kunjungi sekalipun dalam mimpi.
Kau boleh berusaha menyerupai mereka,
Namun jangan membuat mereka menyerupaimu
Sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
Pun tidak tenggelam di masa lampau.
Kaulah busur, dan anak-anakmulah
Anak panah yang meluncur.
Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian.
Dia merentangmu dengan kekuasaan-Nya,
Hingga anak panah itu melesat, jauh serta cepat.
Meliuklah dengan suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
Sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat
Sebagaimana pula dikasihiNya busur yang mantap.
Khalil Gibran

 

 

 

Note: tulisan ini bukan tulisan asli pemilik blog, dapet dari milis, pengirim aslinya nggak ketauan siapa.

 

Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang.


Pak Tua

Pak Tua

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia.

Tanpa membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping.

Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdamping an, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu.

Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu. “Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, “Bagaimana rasanya?”. “Segar.”, sahut tamunya.

Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi.

“Tidak”, jawab si anak muda.

Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajak nya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu. “Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama.

“Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu.”

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat. “Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segala nya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksana telaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan.”

Keduanya lalu beranjak pulang. Mereka sama-sama belajar hari itu. Dan Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan “segenggam garam”, untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa

Arti kata “bandwidth”


Di tahun 1998 saya masih ingat, ketika “jualan” akses internet dan saya harus menjelaskan tentang “bandwidth” kepada para sales freelance, menurut supervisor saya, saya terlalu teknis berbicara.

Saya menjelaskan tentang “banwidth” secara harfiah dari sudut teknikal. Supervisor saya bilang tolong bahasanya dibuat lebih dimengerti bahasanya untuk orang awam, dan dia menganalogikannya dengan “Jalan Tol”

2011 ketika saya lagi-lagi harus menjelaskan apa itu “bandwidth” dan lagi-lagi kepada sales force dikantor, ketika saya berbicara dengan analogi “Jalan Tol”, asa aneh sebab mereka sepertinya lebih mengenal kata “bandwidth” daripada saya cerita dengan analogi “Jalan Tol”

Apakah ini karena penetrasi internet sudah sedemikian kuatnya? atau saya harus cari analogi yg lain?

Tagged ,

Kesalahan terbesar dari seseorang di bidang IT


Kalau diperhatikan, kesalahan terbesar dari orang-orang yang bergerak di bidang IT adalah mereka berbicara dari kacamatanya sendiri, berharap orang lain tahu apa yang mereka bicarakan.
Bukan menghakimi, tapi karena saya sendiri bergerak dalam bidang tersebut dan kecenderungan orang-orang disekitar saya.

Hal tersebut harus diubah kalau kita ingin maju, sebagaimana saya harus banyak belajar untuk dapat menyampaikan hal-hal tersebut bukan dari sudut pandang saya saja.

Tagged ,