Salah satu “sudut” diantara gempa Jogja dan Jawa Tengah


berikut seperti yg di ceritakan oleh Rony Lantip

Teman-teman mungkin sudah tahu, e-life style kemarin menghadirkan didin (airputih) dan hening (mpbi). Hal yang paling menyesakkan adalah kenyataan bahwa teman-teman yang bergerak di dunia IT ini rata-rata memiliki kelemahan dalam pemilihan bahasa dan bersilat lidah. Kita tahu, atau paling tidak percaya, bahwa teman-teman memiliki nurani yang tulus untuk membantu, tapi mari kita tengok ilustrasi berikut:

Raja Tega Roy Suryo: mediacenter sendiri mendapatkan data darimana mas?
Didin: ya kita tidak langsung ke lapangan, kita memanfaatkan sumber sekunder
Raja Tega Roy Suryo: wah *tersenyum sinis* lantas dimana keakuratannya? Jangan-jangan datanya ngawur kayak BLOGGER-BLOGGER itu
Hening: *tertawa*
Raja Tega Roy Suryo: *tertawa*

Aku tahu Hening, sudah lama kami bekerja sama. Aku percaya dia tidak menertawakan blogger ataupun menangkap pernyataan RS, dia tentu menertawakan kegagapan Didin (dalam hal ini kugeneralisir sebagai kegagapan orang IT) dalam menjawab pertanyaan seperti ini. Saya sendiri tidak menyalahkan didin, karena memang kenyataan di lapangan data diambil dengan langkah seperti itu, hanya saja orang seperti Raja Tega Roy Suryo memiliki kelihaian tersendiri dalam menyetir pertanyaan untuk menguntungkan dirinya sendiri. Jalan apapun dia tempuh untuk menggempur kekuatan lain yang tidak dia sukai.

Inti dari postinganku ini hanyalah mengingatkan kepada semuanya saja, fungsi kita adalah fungsi advokasi. Nilainya tentu sama besar dengan pusat data maupun penggalangan bantuan langsung. Enda dengan indonesiahelp misalnya, bisa dijadikan contoh jembatan bantuan masuk ke wilayah Jogja. Airputih juga sudah menorehkan keberhasilan di Aceh maupun di Nias. Tapi dengan pernyataan seperti di atas, melalui media nasional, hal-hal ini menjadi tertutupi.

Catatan saya sendiri, hell with roy suryo! Namun saya menyarankan kita fokus di wilayah advokasi. Advokasi dalam hal ini tentu saja bisa banyak hal, namun yang paling penting kita juga harus aware dengan kemungkinan-kemungkinan ataupun tahapan-tahapan yang tepat. Sebagai contoh saja mengenai bantuan. Misalnya informasi yang kita sebar di media internet mendapat tanggapan dari seluruh dunia, dan masyarakat di luar indonesia tertarik untuk membantu, maka kita bisa arahkan model bantuan yang lebih pas. Selain kebutuhan untuk tahapan rescue, masih ada kebutuhan untuk tahapan rehabilitasi (misalnya saja alat-alat bangunan) sehingga secara tidak langsung kita membantu masyarakat untuk mandiri dan kembali menjalani kehidupannya tanpa selalu tergantung dengan bantuan. Saudara dari Eko Juniarto sudah memilih wilayah advokasi pemulihan melalui ilmu psikologi, menangani trauma masyarakat. Nah, kita tentu juga bisa memilih wilayah yang seperti ini. Ya, ini hanyalah untuk kasus bantu membantu ketika ada bencana seperti sekarang ini. Untuk kasus lain, kita juga tentu bisa berperan lain.

Lantas, pagi ini saya mendapat sms dari heri, untuk membaca KR halaman 2 kolom 7. Dan ternyata RS bahkan sudah kampanye tentang “bahaya”nya permohonan bantuan melalui internet. Satu himbauan yang sepertinya baik, namun itu mematikan keinginan masyarakat untuk bersentuhan dengan dunia yang lebih luas.

Entahlah, saya sedang bingung. Berikut aku sertakan omongan RS di KR.

21 thoughts on “Salah satu “sudut” diantara gempa Jogja dan Jawa Tengah

  1. rendy says:

    ahuehaiheaiheaiehai..

    oy uy oi…!

  2. paydjo says:

    sayang aku gag nonton 😦

    dasar kermitâ„¢

    kemane aja lu seminggu ini ??
    ngungsi ke JKT hah !!!

  3. Roy Suryo Anda keterlaluan…

    Roy suryo anda keterlaluan, kali ini anda sudah sangat melampaui batas, ketika saya membaca suatu thread di milis yang saya lihat hampir setiap hari(yup, milis yang anda benci karena banyak sekali “musuh” anda disana), ada suatu thread ya…

  4. toni says:

    Tahu, apa yang spontan saya katakan sewaktu temen saya ngasih tahu transkrip di atas. Warning: Explicit language ahead ..

    jancuk!!!

    mudah-mudahan ada definisi kata ini di id.wikipedia.org

    Sorry for the explicit word, I just can not stand it anymore.

  5. oón says:

    gudeg.net yang dibilang si rs itu gudeg.net yang lain mungkin?
    http://www.gudeg.net/gempa_detail_berita.php?act=view&id=3110&lang_ver=ind
    iya tuh si rs yang ngaku aseli jogja malah ngiprit, ilang!

  6. mbu says:

    iyyyhh.. jadi tambah ga respek gw..

    *tetap kasih semangat buat teman-teman dari air putih*

  7. sofie says:

    mungkin roy suryo tidak tahu dasar -dasar penelitian sampai proses advokasi, betapa info aatu data yang sifatnya sekunder maupun primer adalah hal yang penting, sekarang tinggal bagaimana mnegadvokasinya untuk kepentingan bersama, data dari bloger terus kenapa??? *dasar roy suryo*

  8. Calupict says:

    Hi Royâ„¢

  9. Wah, sudah lama Om tidak membikin sensasi. Sudah waktunya memang 😛

  10. abe says:

    ehm.. biasanya kan tong kosong nyaring bunyinya.. 😉

  11. tammy says:

    Yah, nonton kebagian buntutnya doang alias pas udah mo abiz… Jadi gak ngeliat pas si Raja Tega ngomong kayak gitu…

    RS ngomong kyak gitu ??
    Idihh, siapa dia ?
    Penting ya ?
    😛

    blogging tuh lintas batas lintas kultural
    tau apa si RS itu…??
    *hehe, kyk gw tau byk aja. newbie juga*

    gw sama kyak si mbuu yg di atas :
    Tambah gak respek….

    Pake bhs gaul,
    Roy Suryo ? Gaaakk pentingggggâ„¢

  12. ripai says:

    #6 hiks, gak ada sensornya sama sekali ya?

    sejak kapan si om pake embel-embel ‘si raja tega’ ? hiks, ketinggalan gw

  13. alvonsius says:

    salam kenal semuanya … salam sampluk buat Roy!!! Oi itu orang dikasi pelajaran dikit napa, bikin kesel ajah. Apa coba hubungan gempa dengan komentar2nya di KR. Kayanya setiap kali dia muntjul pasti ada kata blog dan kata tidak valid, serta ada “YM(Yahoo Messenger) dan SMS(Short Message Services)” … kaya nggak ada yang tau aja artinya

    *emosi*

  14. zam says:

    ikutan si Toni.

    JANCUK, Roy!!

    sak cangkem-cangkemmu!

  15. cha2 says:

    ndaktahu

  16. pembenciRoy says:

    hahaha.
    great, hell with roy.
    ga cocok disebut pakar IT, kalo perlu banned aja dia dari perduniaan IT nasional. Roy cuman pinter omong doank. dasar seleb

  17. bowo says:

    mungkin media perlu “menampilkan” pakar IT yang sebenarnya, yang memang pas kompetensi, profesi dan latar belakang pendidikannya. kalo masih kayak gini ya masyarakat (pejabat/pemerintah/polisi juga) Indonesia tetep dan selalu pakar IT di Indonesia ya mas Roy….

  18. Jacok' says:

    oiiii…liat esensinya…
    nda ada salahnya kita waspada…
    nda semua tujuan ntu baek..jadikan ntu sebagai mawas diri…
    kalo kalian kasih data yang bener, kenapa nyewot..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: