Playboy dan Dunia yang Tercengang


Dikutip dari sebuah kampung… bagus juga buat bahan pemikiran dan pembandingan..
dikampung itu sendiri entah dikutip dari mana..

———————————————————————————————————————-

”Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia mulai mengedarkan Playboy, sebuah majalah porno asal Amerika,” bunyi teras berita harian Al Rayah, Qatar, pekan lalu. Judul yang dipampangnya pun bombastis, ”Negeri Muslim Terbesar di Dunia Terbitkan Majalah Playboy.”

M A L A Y S I A

”Kita tidak akan menoleransi siapa pun yang mencoba menyelundupkan Playboy Indonesia ke sini,”
maksimum 20 ribu ringgit, dan atau hukuman maksimal tiga tahun untuk para penyelundup Playboy atau barang berbau pornografi lainnya.

Bea dan Cukai negara itu memberlakukan pemeriksaan ketat terhadap para pendatang dari Indonesia. Tidak hanya orang Indonesia, tetapi terutama warga Malaysia yang baru pulang dari Indonesia.

Playboy versi Indonesia KECERDIKAN GAYA LAMA saat ini sedang berselimut, sebelum membuka jati diri pada saatnya kelak.

Sehari setelah Playboy Indonesia terbit, Sabtu (8/4) lalu Hugh Hefner, pendiri ‘kerajaan’ Playboy itu, berulang tahun ke-80. Bertelekan pada sofa berlapis bulu tebal, dikelilingi ratusan model yang hanya berbalut bikini (BH), sementara sampanye dan kaviar tak henti mengaliri tenggorokan, Hefner terlihat sangat bungah di mansion bergaya Gothiknya di Los Angeles, Amerika Serikat.

Tentu bukan karena seorang gadis pirang membantunya memotong kue dan menyuapinya sepotong demi sepotong. Prosesi itu pasti terlalu lumrah, bahkan membosankan, di usianya yang menginjak delapan dekade. Ada hal lain yang seharusnya membuat kakek berpiyama sutra itu bergirang hati.

Benar atau tidak, yang pasti pada ulang tahun ke-80 itu Hefner memperoleh ‘kado istimewa’, persembahan Erwin Arnada dan kawan-kawan dari Indonesia. Hefner sangat layak bergembira. Revolusi seks yang dipeloporinya sejak 1950-an, berhasil menaklukkan Indonesia, salah satu negeri Muslim terbesar di dunia.

Bukankah kini Hefner, dalam usia yang secara logika telah di rembang petang, bisa menyatakan diri sukses membuat gaya hidupnya menjadi universal, merambah hingga pojok-pojok dunia yang tadinya dianggap paling musykil sekalipun? Siapa akan membantah, keberhasilan Playboy terbit di Indonesia — meski dengan kemasan tak terlalu vulgar — merupakan sukses besar bagi imperium bisnis Playboy.

”Ini merupakan momen spesial, karena ultah ke-80,” kata Hefner dalam sebuah wawancara televisi. Meski tak menyebut Indonesia, Hefner menambahkan, ”Saya tidak pernah merasa sebaik ini.”

Wajar saja, karena mungkin ‘Mr Playboy’ merasa menemukan tempat untuk memulai eksperimen baru. Sebagaimana dikutip AFP yang meliput pesta semalam suntuk itu, Hefner memang telah menggerakkan perubahan baru di masyarakat Barat. Betapa permisivitas, keserbabolehan, telah dimulai ketika pemuda Hugh Hefner merancang majalah pertamanya itu pada 1953. Setelah itu, revolusi seks pun bergulir tak tertahan, bahkan tidak terduga oleh Hefner.

”Ada tiga penemuan besar dalam sejarah kemanusiaan,” kata Hefner, suatu kali. ”Penemuan api, roda, dan …Playboy,” katanya, setengah berkelakar.

Di lain pihak, wajar pula jika dunia Islam — bukan hanya Indonesia — tercengang dengan lolosnya Playboy di negeri ini. ”Negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia mulai mengedarkan Playboy, sebuah majalah porno asal Amerika,” bunyi teras berita harian Al Rayah, Qatar, pekan lalu. Judul yang dipampangnya pun bombastis, ”Negeri Muslim Terbesar di Dunia Terbitkan Majalah Playboy.”

Sementara, situs harian Arab Saudi, Al Watan, menulis dengan judul lain, ”Banyak Protes Atas Penerbitan Playboy Indonesia”. Tetapi, intinya tetap bernada cemas. Lihat saja mereka menulis, ”Dikhawatirkan majalah porno itu akan berkembang sebagaimana di negara asalnya, meski pada edisi pertama Indonesia itu tidak terdapat gambar telanjang,” tulis Al Watan. Kekhawatiran itu juga tecermin di harian Jordania, Al Ra’yu. ”Edisi pertama itu memang tidak memuat gambar porno. Tetapi, semua tahu itu majalah porno. Langkah sengaja pada edisi pertama itu tampak merupakan kecerdikan penerbitnya,” tulis Al Ra’yu.

Kekhawatiran itu bahkan telah merebak ke negara tetangga, Malaysia. Hanya sehari setelah terbitnya Playboy di Indonesia, pihak Bea dan Cukai negara itu memberlakukan pemeriksaan ketat terhadap para pendatang dari Indonesia. Tidak hanya orang Indonesia, tetapi terutama warga Malaysia yang baru pulang dari Indonesia.

”Kita tidak akan menoleransi siapa pun yang mencoba menyelundupkan Playboy Indonesia ke sini,” kata Dirjen Bea Cukai Malaysia (KDRM), Datuk Abdul Rahman Abdul Hamid. Abdul Rahman berjanji, pihaknya akan menerapkan hukuman berat, berupa denda maksimum 20 ribu ringgit, dan atau hukuman maksimal tiga tahun untuk para penyelundup Playboy atau barang berbau pornografi lainnya.

Ia juga menyatakan, pemeriksaan ketat itu diberlakukan pada setiap pintu masuk menuju Malaysia, antara lain, Bandara Internasional Kuala Lumpur, Bandara Bayan Lepas, Pulau Pinang, serta Bandara Sutan Ismail di Senai, Johor. Bagi pendatang lewat laut, mereka akan diperiksa di Pelabuhan Malaka, Pelabuhan Stulang, Johor, serta semua pelabuhan yang ada.

Layakkah kekhawatiran itu? Di luar pemeriksaan ketat, praktisi media senior, Farid Gaban, menyepakati hal tersebut. Farid, yang gigih mempertahankan sikapnya bahwa Playboy tidak hanya sebuah majalah, melainkan gaya hidup, juga mempertanyakan keistimewaan yang diperoleh Playboy Indonesia untuk ‘tampil lain’.

”Membeli franchise sebuah majalah asing, setahu saya, tidak semata membeli brand tapi juga serangkaian standard operating procedure (SOP): tata cara beroperasi secara bisnis, dalam pemasaran, penyajian, bahkan dalam keseluruhan corporate culture,” tulis Farid dalam sebuah polemik di dunia maya. Hal itu, menurutnya, berlaku sebagaimana McDonald’s, Starbucks, atau National Geographics Indonesia.

Jadi, menurut Farid, bagaimana Playboy Indonesia bisa demikian istimewa untuk keluar dari corporate culture Playboy, seperti tecermin dari pesta ulang tahun Hefner tadi?

Atau, benar sebagaimana kekhawatiran banyak pihak. Playboy versi Indonesia saat ini sedang berselimut, sebelum membuka jati diri pada saatnya kelak.

8 thoughts on “Playboy dan Dunia yang Tercengang

  1. hehehe…
    itulah jika manusia sudah gelap mata oleh dunia 😦
    *sigh, mungkin termasuk juga sih…*

  2. vnuz says:

    Pemerintah memang tidak berkomitmen, putih didepan hitam dibelakang.

  3. [BY]onicS says:

    PERTAMAAAAAAAAAAAAAAA…….

  4. markuse says:

    KEDUAAAAAAAAAAAAA….

  5. antonius says:

    keduaaaaaaaaaaaaaaaa

  6. TukangBubur says:

    indonesia emang kalah dan bertekuk lutut diobok2 gaya dan produk amerika yang bikin rusak
    – world bank maksa pemerintah untuk ngutang, dan pemerintah oke dan malah ketakutan kalau gak terima
    – playboy memaksakan diri terbit dengan edisi promosi ‘sopan’ nya, lama2 jualan ‘narkoba’nya keluar juga. indonesia gak sanggup nolak majalah yang bermodalkan kebugilan ini. Masa kita biarkan perusahaan yg jualan narkoba masuk Indonesia, karena di Indonesia mereka ngakunya cuman jualan permen? gampangnya kita dibodohin
    – Freeport mengacak2 kekayaan alam orang Papua dengan kontrak yang penuh KKN dan sulit dibuktikan. Lha wong FBI dan Mr Bush aja membunuh ibu2 dan anak tak berdosa di Irak gak ada yang bisa buktiin
    – ExxonMobil dan Newmont juga mengacak2 kita
    – apalagi? pokoknya indonesia bertekuk lutut dg mereka… silahkan buat daftar produk dan perusahaan2 mereka, kita jelas kalah dan menyerah?!! padahal banyak pilihan lain
    – pilihan lain untuk ngutang bisa ke negara lain yang lebih banyak modal seperti arab, beli senjata bisa ke rusia. Kalau maksain beli ke amerika emang canggih tapi satu saat kita diancam2

  7. xynisme says:

    i don’t care ’bout sex, i do care ’bout money to buy sex.. 😉

  8. Avy says:

    Bisa aja, setelah 10 penerbitan akan terkuat jati dirinya playboy. tapi mungkin masih seperti FHM, Popular ataupun Matra.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: