Gunung Jangan Pula Meletus


Melihat dan mendengar… katanya ada gempa mulai merambah kemana-mana
dan gunung api mulai menampakkan isinya…

jadi inget tulisan dibawah ini…
serem nggak yah..

dunia mau kiamat? buruan kawin..

————————————
Gunung Jangan Pula Meletus
Oleh Emha Ainun Nadjib

KHUSUS untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah
kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan
kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-
nilai kandungannya?

Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan
dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak
bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang
siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan
para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh.

“Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!,” aku
menyerbu.

“Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran,” Sudrun menyambut
dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.

“Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?”

“Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh
dinikahkan dengan surga.”

“Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling
menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke
kubangan kesengsaraan sedalam itu?”

“Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya
sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian
ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan.”

“Termasuk Kiai….”

Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak
dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran.

“Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa
tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu
ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan
ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan
militer tak berkesudahan?”

Sudrun tertawa terkekeh-kekeh. Tidak kumengerti apa yang lucu dari
kata-kataku. Badannya terguncang-guncang.

“Kamu mempersoalkan Tuhan? Mempertanyakan tindakan Tuhan?
Mempersalahkan ketidakadilan Tuhan?” katanya.

Aku menjawab tegas, “Ya.”

“Kalau Tuhan diam saja bagaimana?”

“Akan terus kupertanyakan. Dan aku tahu seluruh bangsa Indonesia akan
terus mempertanyakan.”

“Sampai kapan?”

“Sampai kapan pun!”

“Sampai mati?”

“Ya!”

“Kapan kamu mati?”

“Gila!”

“Kamu yang gila. Kurang waras akalmu. Lebih baik kamu mempertanyakan
kenapa ilmumu sampai tidak mengetahui akan ada gempa di Aceh. Kamu
bahkan tidak tahu apa yang akan kamu katakan sendiri lima menit
mendatang. Kamu juga tidak tahu berapa jumlah bulu ketiakmu. Kamu
pengecut. Untuk apa mempertanyakan tindakan Tuhan. Kenapa kamu tidak
melawanNya. Kenapa kamu memberontak secara tegas kepada Tuhan. Kami
menyingkir dari bumiNya, pindah dari alam semestaNya, kemudian kamu
tabuh genderang perang menantangNya!”

“”Aku ini, Kiai!” teriakku, “datang kemari, untuk merundingkan hal-
hal yang bisa menghindarkanku dari tindakan menuduh Tuhan adalah
diktator dan otoriter….”

Sudrun malah melompat- lompat. Yang tertawa sekarang seluruh
tubuhnya. Bibirnya melebar-lebar ke kiri-kanan mengejekku.

“Kamu jahat,” katanya, “karena ingin menghindar dari kewajiban.”

“Kewajiban apa?”

“Kewajiban ilmiah untuk mengakui bahwa Tuhan itu diktator dan
otoriter. Kewajiban untuk mengakuinya, menemukan logikanya, lalu
belajar menerimanya, dan akhirnya memperoleh kenikmatan
mengikhlaskannya. Tuhan-lah satu-satunya yang ada, yang berhak
bersikap diktator dan otoriter, sebagaimana pelukis berhak menyayang
lukisannya atau merobek-robek dan mencampakkannya ke tempat sampah.
Tuhan tidak berkewajiban apa- apa karena ia tidak berutang kepada
siapa-siapa, dan keberadaanNya tidak atas saham dan andil siapa pun.
Tuhan tidak terikat oleh baik buruk karena justru Dialah yang
menciptakan baik buruk. Tuhan tidak harus patuh kepada benar atau
salah, karena benar dan salah yang harus taat kepadaNya. Ainun,
Ainun, apa yang kamu lakukan ini? Sini, sini…”-ia meraih lengan
saya dan menyeret ke tembok-“Kupinjamkan dinding ini kepadamu….”

“Apa maksud Kiai?,” aku tidak paham.

“Pakailah sesukamu.”

“Emang untuk apa?”

“Misalnya untuk membenturkan kepalamu….”

“Sinting!”

“Membenturkan kepala ke tembok adalah tahap awal pembelajaran yang
terbaik untuk cara berpikir yang kau tempuh.”

Ia membawaku duduk kembali.

“Atau kamu saja yang jadi Tuhan, dan kamu atur nasib terbaik untuk
manusia menurut pertimbanganmu?,” ia pegang bagian atas bajuku.

“Kamu tahu Muhammad?”, ia meneruskan, “Tahu? Muhammad Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallah, tahu? Ia manusia mutiara yang
memilih hidup sebagai orang jelata. Tidak pernah makan kenyang lebih
dari tiga hari, karena sesudah hari kedua ia tak punya makanan lagi.
Ia menjahit bajunya sendiri dan menambal sandalnya sendiri. Panjang
rumahnya 4,80 cm, lebar 4,62 cm. Ia manusia yang paling dicintai
Tuhan dan paling mencintai Tuhan, tetapi oleh Tuhan orang kampung
Thaif diizinkan melemparinya dengan batu yang membuat jidatnya
berdarah. Ia bahkan dibiarkan oleh Tuhan sakit sangat panas badan
oleh racun Zaenab wanita Yahudi. Cucunya yang pertama diizinkan Tuhan
mati diracun istrinya sendiri. Dan cucunya yang kedua dibiarkan oleh
Tuhan dipenggal kepalanya kemudian kepala itu diseret dengan kuda
sejauh ratusan kilometer sehingga ada dua kuburannya. Muhammad
dijamin surganya, tetapi ia selalu takut kepada Tuhan sehingga
menangis di setiap sujudnya. Sedangkan kalian yang pekerjaannya
mencuri, kelakuannya penuh kerendahan budaya, yang politik kalian
busuk, perhatian kalian kepada Tuhan setengah-setengah, menginginkan
nasib lebih enak dibanding Muhammad? Dan kalau kalian ditimpa
bencana, Tuhan yang kalian salahkan?”

Tangan Sudrun mendorong badan saya keras-keras sehingga saya jatuh ke
belakang.

“Kiai,” kata saya agak pelan, “Aku ingin mempertahankan keyakinan
bahwa icon utama eksistensi Tuhan adalah sifat Rahman dan Rahim….”

“Sangat benar demikian,” jawabnya, “Apa yang membuatmu tidak yakin?”

“Ya Aceh itu, Kiai, Aceh…. Untuk Aceh-lah aku bersedia Kiai ludahi.”

“Aku tidak meludahimu. Yang terjadi bukan aku meludahimu. Yang
terjadi adalah bahwa kamu pantas diludahi.”

“Terserah Kiai, asal Rahman Rahim itu….”

“Rahman cinta meluas, Rahim cinta mendalam. Rahman cinta sosial,
Rahim cinta lubuk hati. Kenapa?”

“Aceh, Kiai, Aceh.”

“Rahman menjilat Aceh dari lautan, Rahim mengisap Aceh dari bawah
bumi. Manusia yang mulia dan paling beruntung adalah yang segera
dipisahkan oleh Tuhan dari dunia. Ribuan malaikat mengangkut mereka
langsung ke surga dengan rumah-rumah cahaya yang telah tersedia.
Kepada saudara- saudara mereka yang ditinggalkan, porak poranda
kampung dan kota mereka adalah medan pendadaran total bagi kebesaran
kepribadian manusia Aceh, karena sesudah ini Tuhan menolong mereka
untuk bangkit dan menemukan kembali kependekaran mereka. Kejadian
tersebut dibikin sedahsyat itu sehingga mengatasi segala tema Aceh
Indonesia yang menyengsarakan mereka selama ini. Rakyat Aceh dan
Indonesia kini terbebas dari blok-blok psikologis yang memenjarakan
mereka selama ini, karena air mata dan duka mereka menyatu, sehingga
akan lahir keputusan dan perubahan sejarah yang melapangkan kedua
pihak”.

“Tetapi terlalu mengerikan, Kiai, dan kesengsaraan para korban sukar
dibayangkan akan mampu tertanggungkan.”

“Dunia bukan tempat utama pementasan manusia. Kalau bagimu orang yang
tidak mati adalah selamat sehingga yang mati kamu sebut tidak
selamat, buang dulu Tuhan dan akhirat dari konsep nilai hidupmu.
Kalau bagimu rumah tidak ambruk, harta tidak sirna, dan nyawa tidak
melayang, itulah kebaikan; sementara yang sebaliknya adalah
keburukanEberhentilah memprotes Tuhan, karena toh Tuhan tak berlaku
di dalam skala berpikirmu, karena bagimu kehidupan berhenti ketika
kamu mati.”

“Tetapi kenapa Tuhan mengambil hamba-hambaNya yang tak berdosa,
sementara membiarkan para penjahat negara dan pencoleng masyarakat
hidup nikmat sejahtera?”

“Mungkin Tuhan tidak puas kalau keberadaan para pencoleng itu di
neraka kelak tidak terlalu lama. Jadi dibiarkan dulu mereka
memperbanyak dosa dan kebodohannya. Bukankah cukup banyak tokoh
negerimu yang baik yang justru Tuhan bersegera mengambilnya,
sementara yang kamu doakan agar cepat mati karena luar biasa jahatnya
kepada rakyatnya malah panjang umurnya?”

“Gusti Gung Binathoro!,” saya mengeluh, “Kami semua dan saya sendiri,
Kiai, tidaklah memiliki kecanggihan dan ketajaman berpikir setakaran
dengan yang disuguhkan oleh perilaku Tuhan.”

“Kamu jangan tiba-tiba seperti tidak pernah tahu bagaimana pola
perilaku Tuhan. Kalau hati manusia berpenyakit, dan ia membiarkan
terus penyakit itu sehingga politiknya memuakkan, ekonominya nggraras
dan kebudayaannya penuh penghinaan atas martabat diri manusia sendiri-
maka Tuhan justru menambahi penyakit itu, sambil menunggu mereka
dengan bencana yang sejati yang jauh lebih dahsyat. Yang di Aceh
bukan bencana pada pandangan Tuhan. Itu adalah pemuliaan bagi mereka
yang nyawanya diambil malaikat, serta pencerahan dan pembangkitan
bagi yang masih dibiarkan hidup.”

“Bagi kami yang awam, semua itu tetap tampak sebagai
ketidakadilan….”

“Alangkah dungunya kamu!” Sudrun membentak, “Sedangkan ayam menjadi
riang hatinya dan bersyukur jika ia disembelih untuk kenikmatan
manusia meski ayam tidak memiliki kesadaran untuk mengetahui, ia
sedang riang dan bersyukur.”

“Jadi, para koruptor dan penindas rakyat tetap aman sejahtera
hidupnya?”

“Sampai siang ini, ya. Sebenarnya Tuhan masih sayang kepada mereka
sehingga selama satu dua bulan terakhir ini diberi peringatan
berturut-turut, baik berupa bencana alam, teknologi dan manusia,
dengan frekuensi jauh lebih tinggi dibanding bulan-bulan sebelumnya.
Tetapi, karena itu semua tidak menjadi pelajaran, mungkin itu
menjadikan Tuhan mengambil keputusan untuk memberi peringatan dalam
bentuk lebih dahsyat. Kalau kedahsyatan Aceh belum mengguncangkan
jiwa Jakarta untuk mulai belajar menundukkan muka, ada
kemungkinan….”

“Jangan pula gunung akan meletus, Kiai!” aku memotong, karena ngeri
membayangkan lanjutan kalimat Sudrun.

“Bilang sendiri sana sama gunung!” ujar Sudrun sambil berdiri dan
ngeloyor meninggalkan saya.

“Kiai!” aku meloncat mendekatinya, “Tolong katakan kepada Tuhan agar
beristirahat sebentar dari menakdirkan bencana-bencana alam….”

“Kenapa kau sebut bencana alam? Kalau yang kau salahkan adalah Tuhan,
kenapa tak kau pakai istilah bencana Tuhan?”

Sudrun benar-benar tak bisa kutahan. Lari menghilang.

Emha Ainun Nadjib Budayawan

One thought on “Gunung Jangan Pula Meletus

  1. Tuhan says:

    Tuhan Tuhan Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: