Sang


Pendahuluan:
ini cerita sebenernya udah lama gue tulis, suatu hari di bulan puasa sekitar jam 1 malem gue bangun, trus gue ambil laptop en ngetik!!!!
yep hebat seakan jadi pengarang.. huehuhe..
berharap cerita ini nggak selesai sampai disini (emang belum selesai) baru permulaan,
judulnya pun belum tahu. ceritanya masih panjang.
nggak tau juga nih kapan nerusin..

————————————————————————————————


Warnet 03.30 dini hari

Suara ketukan jari-jemari diatas keyboard terdengar sayup sayup dari sudut ruangan. Sementara jam dinding yg sudah pudar warnanya menunjukkan waktu pukul 3 lebih 30 menit dini hari. Sigit masih asik mengetukkan jari-jarinya diatas papan ketik elektronis tersebut. Pada layar monitornya terlihat ada tiga buah jendela yang terbuka. Di pojok kanan atas layarnya terbuka sebuah browser internet yang menampilkan halaman sebuah mesin pencari. Di sisi kiri bawah layer monitor berdiagonal 17 inchi itu tampak beberapa baris kalimat percakapan yang bergantian naik, ya sigit sedang menjelajah internet sekaligus berbincang-bincang dengan teman mayanya. Di bagian tengah layarnya tampak sebuah jendela berisikan baris baris sebuah program computer, tampaknya sigit tidak hanya sedang bercakap cakap dan berselancar saja, dia sedang meng-coding sebuah program computer yang keberadaan fisiknya entah berada dimana.

Malam kian larut.. bahkan menjelang pagi, peluh sigit menetes walaupun ruangan tersebut dilengkapi dengan pendingin udara. Sesekali matanya melirik ke arah pintu masuk yang berupa kaca tembus pandang. Tampak disamping pintu masuk penjaga warnet telah tertidur lelap di kursinya. Ruangan yang berisikan dua puluh buah computer itu tampak senyap. Beda keadaannya dengan siang hari dimana ruangan itu dipenuhi oleh para mahasiswa yang menyewa computer-komputer tersebut. Sigit tinggal seorang diri di warnet ini.
“Hmm… mungkin kalau tidak ada gue disini, warnet ini sudah tutup dari tadi”, begitulah sekelebat pikiran sigit dalam kepalanya.

Sigit semakin tenggelam dalam kesibukannya membuat sebuah program computer. tampaknya sudah dalam bagian yg sangat penting dan sulit, karena beberapa kali tampak sigit mengernyitkan keningnya dan tampak gugup. Tiba-tiba
“Prtttttttt Trrrtttttt …. Bleb!!!!”. “Anjrit!!!!!!…….. “,sigit setengah berteriak sambil meloncat dari kursinya. Terdengar kursi jatuh.
Jantungnya berdegup kencang, nafasnya terengah engah. Peluh semakin deras membasahi tubuhnya. Ruangan warnet dimana sigit berada diselimuti kegelapan. Sigit berusaha menenangkan dirinya, walaupun dalam kepalanya terbayang sosok-sosok klimis berpakaian jas rapi berwarna hitam-hitam berkacamata hitam, seperti film-film produksi Hollywood tentang agen agen rahasia yang sering di tontonnya.

“Mas.. mas bangun mas..!!!”.
Sigit berusaha membangunkan penjaga warnetnya. Si penjaga warnet bangun dan tampak kebingungan, karena semuanya gelap. Sigit membuka sedikit pintu keluar dan melihat ke sekeliling bangunan berlantai tiga tersebut yang sering disebut ruko itu. Tampak keadaan semua gelap. Hanya tampak deretan lampu jalan layang tol yang terlihat.
“Hmm… mati lampu semua. Kaget gue kirain ada apa”, gumam sigit. Jantung sigit sudah berdetak normal, walaupun hatinya masih diliputi rasa cemas.

“Ada senter mas?”. Sigit menanyakan kepada penjaga warnet yang sedang meraba-raba lacinya berusaha mencari senter.
“Ada nih mas sigit! Sebentar yah.. gelap.. nggak keliatan.. dicari dulu!”.
Joko nama penjaga warnet dengan logat banyumasan itu tampaknya sudah sangat akrab dengan sigit. Ya beberapa hari ini sigit sepertinya betah di warnet yang mempunyai nama Cybernet itu.
“Maaf mas sigit saya tinggal tidur, habis saya kira udah nggak ada orang. Ternyata masih ada mas sigit. Tinggal siapa aja mas sigit ?”.
”Tinggal saya sendiri mas, yang lain sudah pulang”, balas sigit.
”Ada lilin nggak mas? Kayaknya mati lampu semua nih satu komplek. Perumahan di seberang jalan itu juga gelap tuh. Wah.. jangan-jangan mati lampu satu kota nih!”.
“Ada mas, sebentar saya ambilkan dilemari”.
Tampak sinar senter bergerak kesana kemari mencari lilin di lemari kaca di belakang tempat duduk mas Joko.
“Nih saya juga ada koreknya, kita ngobrol diluar aja yuk sekalian saya mau roko’an. Mas sigit ngerokok ?”.
”Oh maaf mas saya nggak ngerokok, terima kasih deh”. Sigit mahasiswa semester delapan itu telah berhenti merokok sejak lulus sma empat tahun yang lalu.
“Kalau dirokok saya iya mas!”, canda sigit sambil nyengir seakan lupa akan ketegangan yang barusan dialaminya.
“Lho? Mas sigit mau dirokok sama sapa ?”, mas joko menimpali dengan canda yang tidak kalah usilnya juga.
“Laaahh. Koq jadi bahas rokok merokok nih mas.. hehehehehhee.”.
Sigit dan mas joko pun tertawa bersama. Mereka akirnya duduk di lantai teras depan warnet cybernet, dengan penerangan seadanya dari temaram sinar lilin.

“Eh mas sigit koq sekarang tumben rajin banget maen di warnet cybernet ini mas? Ada apa mas? Biasanya kan paling nggak seminggu dua kali datang. Eh koq sekarang tiap hari mampir sini. Sampai malam pula… sampai pagi bahkan. Ya kayak sekarang ini mas”.
“Iya nih mas joko…, ada yang lagi dibuat”.
“Skripsi?”.
“Bukan mas..”.
“Proyek? Ajak saya dong mas kalo ada proyek sekali-sekali. Ya narik-narik kabel juga nggak apa-apa lah mas”.
“Bukan juga mas”.
“Loh terus apa dong? Itu juga kalo mas sigit kemari kayaknya mas sigit jalan sendirian yah, kalau biasanya khan rame-rame sama itu juga tuh, cewek yang rambut panjang itu mas”.

Sigit terdiam, pikirannya kembali kepada apa yang sedang dilakukannya sebelum mati lampu tadi. Memang sudah beberapa hari ini sigit betah berlama lama di warnet cybernet ini. Warnet yang memang merupakan tempat tongkrongan anak-anak kampusnya kalo siang hari.
“Eh mas, itu UPS, komputer sama switch nggak dimatiin tuh? Rusak loh nanti kalo lampunya nyala lagi tapi belum pada dimatiin”.
Sigit berusaha memecah keheningan beberapa saat itu sambil membelokkan arah obrolan dengan mas joko.
Tampaknya sigit sedang tidak ingin diketahui oleh siapapun tentang apa yang dilakukannya sekarang ini.
“Ooo.. begitu yah mas, sebentar yah.. jarang jarang mati lampu sih soalnya disini. Kalau rusak gimana yah mas”.
“Beli lagi aja.. susah-susah amat mas joko mikirnya”, gurau sigit sambil nyengir.
“si mas nih.. saya kan cuman tukang jaga disini, yang punya toh paling juga sekarang sedang tidur lelap mas”.
“He he he.. becanda mas.., sekalian deh saya juga mau pulang ke kost-an”.
Sigit mengeluarkan selembar dua puluh ribuan dan kunci motor dari sakunya.
“Ini dulu ya mas Jok.. kalo kurang besok lagi. Besok saya kesini lagi koq, toh kita nggak tau juga totalnya berapa saya harus bayar. Lha computer bilingnya ikut mati!”.
“Iya mas.. besok juga nggak apa-apa. Yang punya warnet, si juragan itu, juga kan temen mas sigit”. Jawab mas joko sambil senyum.
“Kalau ngutangnya kebanyakan.. ya itu urusan mas sigit sama juragan.. hehehehe.. “.
“Ok deh mas jok. Saya pulang dulu yah. Terima kasih loh ditemenin sampai malam”.
“sama sama mas sigit.. nggak apa-apa koq.. lha wong saya tidurnya juga di lantai 3 koq”.
“Oh!. Saya bisa nginep sini dong”.
“bias mas sigit.. asal kalo maen internet ya tetep bayar.”, mas joko senyum kembali.
“Ya udah kapan-kapan deh saya nginep sini mas jok”.
“Dipersilahkan mas.. saya masuk dulu yah.. ini pintu mau saya kunci dari dalam”
“Ok Ok, ngobrol terus nggak ada habis habisnya nih.. “.

Keadaan pun hening kembali. Pintu warnet cybernet telah tertutup, begitu juga kaca-kaca tembus pandangnya yang di tempeli poster-poster berukuran besar telah tertutup tirai.
Yang ada tinggal sigit dan motor Honda tiger 2000 nya. Motor yang diberikan oleh orang tuanya untuk menemani sigit kuliah.
Dalam hati dan bathinnya sedang berkecamuk perang yg membuat dia gelisah. Antara takut dan keingintahuan yang dalam.
“Ah udah… pikirin nanti aja, pulang dulu trus tidur”. Sigit bergumam dalam hati.
Sigit menyalakan mesin motor dan memakai helmnya.
“Daripada gue mikir macem-macem sekarang, bisa nabrak nih kalo pulang.. ngantuk pula”.
Akhirnya motor sigit berjalan, pelan… lama lama kecepatannya bertambah hingga hilang dari pandangan ditelan keremangan fajar yang telah merekah di ufuk timur.

***

Cybernet. Adalah nama warnet yang diberikan Agung kepada warnet yg didirikannya 3 tahun silam. Dimana 3 tahun lalu belum banyak warnet yang berdiri seperti sekarang ini.
Agung adalah teman sigit di kampusnya. Mereka satu kelas pada waktu tingkat dua hingga sekarang karena mengambil mata kuliah dan dosen yang sama. Mereka sama sama mengambil jurusan Teknologi Infomasi pada Fakultas Teknologi Industri. Tetapi sudah hampir setahun ini agung jarang kuliah. Agung yang orang tuanya pengusaha dan mempunyai jabatan penting di luar pulau jawa itu sedang asik berbisnis. Memang warnet cybernet cukup laku untuk menambah uang saku dan biaya hidup agung di Jakarta seorang diri. Lebih lebih banyak tawaran dari teman-teman orang tuanya agung yang ada di Jakarta untuk memakai jasa agung untuk masalah teknologi informasi. Entah itu membuat situs website perusahaan mereka, memasang jaringan di kantornya ataupun sekedar agar computer mereka bisa mengakses internet dirumah. Dari hasil sambilannya itu dan dari penghasilan warnet cybernet agung bisa membeli sebuah rumah yang tidak terlalu besar di kompleks depan warnet cybernet. Di rumah itu agung tinggal sendirian. Kadang kadang rumah itu ramai oleh para mahasiswa teman temannya agung. Bahkan di garasi yang tidak bisa dibilang luas, dirubah oleh agung menjadi sebuah laboratorium computer mini. Dalam garasi tersebut banyak berserakan komponen komponen computer baik yang baru maupun bekas. Selain menjadi laboratorium, garasi itu juga menjadi tempat mangkal agung dan kawan kawan bila sedang mengerjakan proyek.

Warnet Cybernet yang berlantai tiga itu di jaga oleh seorang lagi laki laki yang berumur 35 tahun bernama Joko. Joko sendiri dulunya seorang pesuruh di kantor orang tua agung waktu bertugas di Jakarta yang ternyata rumahnya dekat dengan kampus agung. Selain joko ada dua orang wanita yang bertugas sebagai kasir yang kerjanya bergantian. Di luar itu ada tiga orang junior sigit dan agung yang bertugas sebagai admin dan technical support bila ada computer yang bermasala, mereka bertiga juga bekerja bergantian sesuai dengan jadwal kuliah mereka masing masing.

Dari tiga lantai yang ada, dua lantai dibawah diisi oleh kurang lebih dua puluh computer tiap lantainya. Sedangkan lantai tiga untuk tempat tinggal joko dan gudang. Kadang warnet cybernet terisi penuh hingga para calon penyewa terpaksa menunggu di luar ruko.
Tetapi keaadan itu sekarang sudah jarang terjadi. Karena sudah banyak warnet warnet lain yang bermunculan di sekitar situ. Yang masih bisa membuat warnet cybernet ramai dikunjungi mahasiswa adalah karena akses internetnya yang paling cepat dari warnet warnet yang ada disekitar situ. Sedangkan harganya tidak terpaut jauh.

The Planning

Sigit berulangkali melihat jam tangan di tangan kanannya. Waktu sudah menunjukkan pukul lima belas lebih sedikit. Matahari masih memancarkan hangat sinarnya walaupun sudah tidak sepanas dua jam sebelumnya.
“Kemana nih anak… ditungguin dari jam dua nggak muncul muncul. Katanya janjinya jam setengah tiga di depan warnet!!”.
Sigit berbicara dengan dirinya sendiri.
“Mana henponnya mati pula”.

Di depan warnet cybernet tampak sigit sedang gelisah menanti kedatangan agung. Dipundaknya terlihat sebuah ransel yang kelihatannya cukup berat. Dalam ransel itu sigit menaruh sebuah laptop yang merupakan hasil jerih payahnya sendiri waktu bersama sama agung mengerjakan sebuah proyek pembuatan website untuk pemerintah daerah dimana ayah sigit menjabat.
“Walau bukan dari seri yang terbaru, paling nggak gue udah bisa beli laptop dari duit gue sendiri!!”.
Begitu kata sigit kalau teman temannya menanyakan tentang laptopnya.
Sigit akhirnya masuk kedalam warnet dan berbicara dengan joko yang sedang mengelap tumpahan minuman di meja paling belakang.
“Mas jok.. ada kabar dari si juragan nggak?. Gimana sih tuh anak.. gue tungguin dari tadi nggak dateng dateng!. Dia nelpon kesini nggak mas jok?” ucap sigit setengah berteriak kepada joko.
“Wah belum tuh mas.. saya seharian belum ketemu dengan juragan. Biasanya sih jam segini udah nelpon kesini nanyain keadaan warnet”.
“Ya sutra kalo gitu mas. Saya samperin ke rumahnya aja deh”.
“Oke mas sigit, kalo ketemu juragan jangan lupa suruh telpon kesini yah. Ada yang saya ingin sampaikan sama juragan”.

Sigit keluar dari warnet. Di depan pintu warnet dia mengeluarkan telepon selularnya. Dia berusaha menghubungi sigit kembali.
“Anda berhubungan dengan tembok!!!!” setengah kesal sigit menggerutu karena nomor yang dihubunginya dijawab oleh mesin.

12 thoughts on “Sang

  1. jamal says:

    duh, ngegantung banget yak 😛
    next next!!

  2. Bi[G] says:

    emang mal.. 😀
    sengaja…. biar penasaran

  3. obeng says:

    ih panjang … ini blog ??? cocoknya ganti jadi cerpen.adypermadi.com aja !!!

  4. non says:

    waaaah…ceritanya gantung.. dilanjutin dong.. kan penasaran

  5. arjuna says:

    untung bacanya skip2 jadi ngga ngegantung 😀

  6. jenong says:

    Gue yakin akhir ceritanya sigit dan joko jadian (jadi homo)
    :mrgreen::neutral::twisted::arrow::shock::smile::???::cool::evil::grin::idea::oops::razz::roll::wink::cry::eek::lol::mad::sad::!::?:

  7. Anonymous says:

    kok jadi kaya baca 17tahun.com yah? :mrgreen:

  8. wonkito says:

    more…more…:lol:
    pengen tau sigit ama agung jadian gak ya:?:

    he…23x:lol:

  9. pupung says:

    Waduh ini cerita IT banget ya 🙂 he..he…he..he…. kalau boleh ngkritik, ceritanya terlalu detail.php, tapi sayang blm rampung mau dibikin trilogi ya ? he…he.he.he.. eh ini kok sama ama jamal, nulis2 cerpen….

  10. Arie Rohaedi says:

    kapan mu dilanjutin ni cerita??????

  11. aing says:

    anjing !, sebagai seorang pengangguran yang baru aja lulus lewat jalan belakang. ni crita ngingetin gue denagn kehidupan kampus gue yang dulu. asyik kali ya kalau kita bisa di kampus terus tanpa harus turun ke dunia nyata

  12. ira says:

    yah…klu nulis cerita jangan d gantung 2,ataw jangan2 lupa ya kelanjutannya apa …..hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: