Jangan mengaku anak Jakarta kalau tidak tau asal usul nama tempat-tempat ini


Jangan mengaku anak Jakarta kalau tidak tau asal usul nama tempat-tempat ini…

1. Glodok

Asalnya dari kata grojok yang merupakan sebutan dari bunyi air yang jatuh pada pancuran air.

Di tempat itu dahulu kala ada semacam waduk penampungan air kali Ciliwung.

Orang Tionghoa dan keturunannya menyebut grojok dengan glodok karena orang Tionghoa sulit mengucap kata grojok seperti layaknya orang pribumi.

2. Kwitang

Dulu di wilayah tersebut sebagian tanah dikuasai dan dimiliki oleh tuan tanah yang sangat kaya raya sekali bernama Kwik Tang Kiam.

Orang Betawi jaman dulu menyebut daerah itu sebagai kampung si kwi tang dan akhirnya lama-lama tempat tersebut dinamai Kwitang.

3. Senayan

Dulu daerah Senayan adalah milik seorang yang bernama Wangsanayan yang berasal dari Bali.

Tanah tersebut disebut orang-orang dengan sebutan Wangsanayan yang berarti tanah tempat tinggal atau tanah milik Wangsanayan.

Lambat laun akhirnya orang menyingkat nama Wangsanayan menjadi Senayan.

4. Menteng

Daerah Menteng Jakarta Pusat pada jaman dahulu kala merupakan hutan yang banyak pohon buah-buahan.

Karena banyak pohon buah menteng orang menyebut wilayah tersebut dengan nama kampung menteng.

Setelah tanah itu dibeli oleh pemerintah Belanda pada tahun 1912 sebagai lokasi perumahan pegawai pemerintah Hindia Belanda, maka daerah itu disebut Menteng.

5. Jl. Jaksa

Jalan yang berada di daerah Jakarta Pusat ini menjadi pusatnya orang asing yang tinggal di Jakarta, tapi dahulu kala tempat ini banyak sekali kos-kosan yang ditempati oleh pelajar-pelajar Indonesia yang sekolah hukum Belanda.

6. Matraman

Dahulu kala merupakan home basenya Sultan Agung yang mau menyerang Batavia, karena Sultan Agung dari Mataram maka tempat tersebut dikenal dengan Mataraman dan lama-lama sebutan tersebut menjadi Matraman.

7. Karet Tengsin

Dahulu kala tempat ini adalah perkebunan karet milik etnis Tionghoa bernama Tieng Shin, karena orang pribumi susah menyebutnya jadi Tengsin saja.

8. Kuningan

Dulunya adalah tempat menetapnya seorang pangeran dari Cirebon bernama Pangeran Koeningan.

9. Buncit

Dahulu di jalan Buncit Raya ada seorang pedagang kelontong etnis Tionghoa berperut gendut (buncit) yang sangat terkenal.

10. Bangka

Dahulu disana banyak ditemukan mayat (bangke/ bangkai) orang yang dibuang ke kali Krukut.

11. Cilandak

Konon disana pernah ditemukan seekor landak raksasa.

12. Tegal Parang

Disana dulu banyak ditemukan alang-alang tinggi (tegalan) yang dipotong dengan parang (golok).

13. Blok A/M/S

Dulunya sekitar itu tempat pembukaan perumahan baru yang ditandai dengan blok, mulai A-S, sayang yang tersisa hanya 3 blok saja.

14. Pasar Rumput

Dulunya tempat berkumpulnya tukang rumput yang menjual untuk kalangan meneer Belanda yang tinggal dikampung Elit Menteng.

15. Kalimalang

Karena kali atau sungai yang mengalir di sepanjang jalan tersebut tidak mengarah ke laut (utara), melainkan kearah barat (silang atau malang).

16. Lebak Bulus

Dahulu kala disini jadi sentral penjual penyu atau kura-kura yang dijajakan di kolam-kolam, lebak artinya kolam, bulus artinya penyu atau kura-kura.

17. Boplo

Berlokasi di belakang stasiun Gondangdia, Menteng.

Dahulu kala tempat ini adalah tanah perusahaan kontraktor Belanda NV De Bouwploeg.

18. Kampung Ambon

Berlokasi di Rawamangun, Jakarta Timur, nama Kampung Ambon sudah ada sejak tahun 1619.

Pada waktu itu JP Coen sebagai Gubernur Jendral VOC menghadapi persaingan dagang dengan Inggris.

Untuk memperkuat angkatan perang VOC, Coen pergi ke Ambon lalu merekrut masyarakat Ambon untuk dijadikan tentara.

Pasukan dari Ambon yang dibawa Coen itu kemudian diberikan pemukiman di daerah Rawamangun, Jakarta Timur.

Sejak itulah pemukiman tersebut dinamakan Kampung Ambon.

19. Sunda Kelapa

Sunda Kelapa merupakan sebutan sebuah pelabuhan di teluk Jakarta.

Nama kelapa diambil dari berita yang terdapat dalam tulisan perjalanan Tome Pires pada tahun 1513 yang berjudul Suma Oriental.

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa nama pelabuhan itu adalah Kelapa.

Karena pada waktu itu wilayah ini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda maka kemudian pelabuhan ini disebut Sunda Kelapa.

20. Pondok Gede

Sekitar tahun 1775 lokasi ini merupakan lahan pertanian dan peternakan yang disebut Onderneming.

Disana terdapat sebuah Landhuis atau rumah besar tempat tinggal sekaligus tempat mengurus usaha pertanian dan peternakan milik Johannes Hoojiman.

Karena merupakan satu-satunya bangunan besar yang ada dilokasi tersebut masyarakat pribumi menyebutnya Pondok Gede.

21. Pasar Senen

Pasar Senen pertama kali dibangun oleh Justinus Vinck.

Orang-orang Belanda menyebut pasar ini dengan sebutan Vinckpasser (pasar Vinck), tetapi karena hari pada awalnya Vinckpasser dibuka hanya pada hari Senin, maka pasar itu disebut juga Pasar Senen (disesuaikan dengan kebiasaan orang-orang yang lebih sering meyebut Senen ketimbang Senin).

Namun seiring kemajuan dan pasar Senen semakin Ramai, maka sejak tahun 1766 pasar ini pun buka pada hari-hari lain.

22. Kebayoran

Kebayoran berasal dari kata kebayuran yang artinya tempat penimbunan kayu bayur, kayu bayur yang sangat baik untuk dijadikan kayu bangunan karena kekuatannya serta tahan terhadap rayap.

23. Kebagusan

Nama Kebagusan, daerah yang menjadi tempat hunian mantan Presiden Megawati berasal dari nama seorang gadis jelita, Tubagus Letak Lenang.

Konon kecantikan gadis keturunan kesultanan Banten ini membuat banyak pemuda ingin meminangnya.

Agar tidak mengecewakan hati pemuda itu ia akhirnya memilih bunuh diri.

Sampai sekarang makam itu masih ada dan dikenal dengan nama ibu Bagus.

24. Ragunan

Berasal dari Wiraguna, yaitu gelaran yang disandang tuan tanah pertama kawasan tersebut bernama Hendrik Lucaasz Cardeel yang diperolehnya dari sultan Banten Abunasar Abdul Qahar, Putra Sultan Ageng Tirtayasa.

25. Paal Meriam

Asal usul nama daerah yang berada di perempatan Matraman dengan Jatinegara ini berasal dari suatu peristiwa sejarah yang terjadi sekitar tahun 1813.

Pada waktu itu pasukan altileri meriam Inggris yang akan menyerang Batavia mengambil daerah itu untuk meletakkan meriam yang sudah siap ditembakkan.

Peristiwa tersebut sangat mengesankan bagi masyarakat sekitar dan menyebut nama daerah ini Paal Meriam (tempat meriam dipersiapkan).

26. Cawang

Dahulu kala, ketika Belanda berkuasa ada seorang letnan melayu yang mengabdi pada kompeni bernama Ence Awang.

Letnan ini bersama anak buahnya bermukim dikawasan yang tak jauh dari Jatinegara.

Lama kelamaan sebutan Ence Awang berubah menjadi Cawang.

27. Condet (Batu Ampar & Bale Kambang)

Pada jaman dahulu ada sepasang suami istri namanya pangeran Geger dan Nyai Polong, mereka memiliki beberapa orang anak.

Salah satu anaknya perempuan diberi nama Siti Maemunah terkenal sangat cantik.

Pangeran Astawana, anak pangeran Tenggara atau Tonggara asal Makassar pun tertarik melamarnya.

Siti Maemunah meminta dibangunkan sebuah rumah dan tempat peristirahatan diatas empang, dekat kali Ciliwung yang harus selesai dalam satu malam.

Permintaan itu disanggupi dan menurut legenda esok harinya sudah tersedia rumah dan sebuah bale dipinggir kali Ciliwung.

Untuk menghubungkan rumah itu dengan kediaman keluarga pangeran Tenggara dibuatlah jalan yang diampari (dilapisi) batu.

Demikian menurut cerita, tempat yang dilalui jalan yang diampari batu disebut Batu Ampar dan bale (balai) peristirahatan yang seolah-olah mengambang di atas air itu disebut Balekambang.

28. Depok

Dahulu tempat ini sebagai depo kereta api (garasi)

29. Bintaro

Karena perumahan Bintaro dan sekitarnya memang bayak ditumbuhi pepohonan yang bernama bintaro dan buahnya sering dikonsumsi masyarakat setempat.

30. Taman Anggrek

Berawal dari keinginan ibu Tien untuk mengambil kebun anggrek milik juragan tanah sunda bernama H. Rasman, dia memiliki tanah berhektar-hektar di Cipete.

Bu Tien mengambil bunga-bunga anggrek tersebut dengan niat membeli (namun tidak dibayar) yang akhirnya dipindahkan ke daerah Jakarta Barat, sekarang jadi Mall Taman Anggrek.

31. Petamburan

Pada suatu waktu terjadi peristiwa yang melatar belakangi penamaan daerah ini.

Peristiwa itu meninggalnya seorang penabuh tambur daerah di daerah ini dan dimakamkan di bawah pohon jati, sehingga nama kampung ini sebenarnya Jati Petamburan.

32. Gondangdia

Ada beberapa versi asal penamaan Gondangdia.

Versi pertama, gondangdia berasal dari nama pengembang yang ditunjuk Belanda untuk membangun kawasan Menteng, Yaitu NV Gondangdia.

Versi kedua, berasal dari nama kakek yang terkenal dan disegani di kampung tersebut, kakek tersebut sering disebut Kyai Kondang.

Karena terkenal, nama kyai itu sering disebut-sebut dan dikaitkan dengan nama daerah tersebut.

Akhirnya nama tersebut dikenal Gondangdia (kakek dia yang tersohor).

33. Petojo

Berasal dari nama seorang pimpinan orang-orang Bugis, yang pada tahun 1663 diberi hak pakai kawasan tersebut, bernama Aru Petuju.

Oleh Betawi petuju diucapkan Petojo.

34. Krukut

Asal usul nama krukut mempunyai beberapa versi.

Versi pertama, krukut berasal dari Sindiran yang diberikan pada orang yang hidupnya sangat hemat atau pelit (krokot).

Orang Betawi menyebut orang-orang Arab yang banyak tinggal di kampung tersebut dengan krukut, merubah kata krokot menjadi krukut.

Versi kedua, berasal dari bahasa Belanda kerkhof yang berarti kuburan.

Pada masa lalu kampong tersebut memang merupakan tempat kuburan orang-orang Betawi.

35. Pinangsia

Nama jalan didekat pertokoan Glogok ini berasal dari bahasa Belanda financien yang artinya keuangan.

Ada juga yang mengatakan tempat ini dahulu ada department van financien alias Departemen Keuangan, oleh lidah orang Betawi, kata financien berubah menjadi pinangsia.

36. Kali Angke

Kata angke berasal dari bahasa Cina.

Ang = darah
ke = sungai.

Kata ini didasarkan pada peristiwa pembantaian orang-orang etnis Cina oleh Belanda di tahun 1740.

Mayat orang-orang Cina yang bergelimpangan dihanyutkan di kali yang ada di dekat peristiwa itu.

Sehingga kali yang penuh dengan mayat itu berganti nama dengan kali angke.

Sebelum peristiwa tersebut terjadi, kampung tersebut bernama kampung Bebek, hal ini dikarenakan orang Cina yang tinggal dikawasan tersebut banyak yang beternak bebek.

37. Pluit

Sekitar tahun 1660 di pantai sebelah timur muara kali angke diletakkan sebuat Fluitschip (kapal panjang ramping) bernama Het Witte Paert yang tidak layak melaut.

Kapal ini digunakan menjadi kubu pertahanan untuk membantu benteng Vijhoek yang terletak dipinggir kali Grogol, sebelah timur kali angke, dalam menanggulangi serangan-serangan sporadic yang dilakukan oleh pasukan bersenjata kesultanan Banten.

Kubu tersebut dikenal dengan sebutan De Fluit.

38. Marunda

Marunda berasal dari kata merendah.

Menurut cerita turun temurun, sifat penduduk asli disini memang baik hati, menjauhi sifat sombong yang dilarang agama.

39. Tanjung Priok

Nama Tanjung Priok diambil dari nama seorang penyebar agama Islam dari Palembang dengan sebutan Mbah Periuk yang membawa Periuk Nasi sisa perjalanan dari Palembang.

Dunia Digital vs Dunia Nyata


Disadur dari artikel Prof. Rhenald Kasali http://www.rumahperubahan.co.id/blog/2017/06/19/dunia-digital-vs-dunia-nyata-jawa-pos/

Dunia Digital vs Dunia Nyata – Jawa PosDalam banyak kesempatan, saya mendengar kuatnya anggapan bahwa dunia maya (digital), berbeda dengan dunia nyata. Dunia digital dianggap sebagai “alam halus”, yang belum, atau bahkan sulit disentuh. Kalaupun dipakai, hanya sebatas sebagai alat pendukung saja.  Sementara, dunia nyata adalah dunia kita sehari-hari.

Bahkan ada yang beranggapan itu adalah dunianya para millenials, anak-anak mereka. Juga tak dapat dihindari yang berpikir, bisnisnya (core-nya) sama sekali tak perlu bersentuhan dengan dunia digital.

Misalnya saja ada yang mengatakan, “kami ini bisnisnya semen, bukan retail.”  Dan kalau diteruskan lagi “kami”nya bisa panjang: kami jual mobil, bukan hiburan, kami pupuk bukan hotel, kami tekstil bukan oleh-oleh…dan seterusnya. Seakan-akan dunia maya itu hanya berlaku bagi retail, hiburan dan sejenisnya.

Mungkin anggapan semacam ini menguat lantaran sering melihat anak-anak bermain game.  Jadi, dunia digital hanya ada dalam game, bukan kehidupan nyata.

Anggapan seperti itu, kalau dibiarkan tentu bakal menyesatkan dan menyulitkan banyak perusahaan yang sudah bagus. Ini akan membuat kita   “gagal paham”.  Ya, gagal memahami perubahan-perubahan besar yang tengah bergulir di sekitar kita.

Kini sejak manusia melewati tahapan connectivity melalui internet, digital dan dunia nyata menyatu dalam kehidupan kita sehari-hari. Ini buktinya.

Masih ingat dengan seorang perwira TNI yang memecahkan kaca bus di jalan tol Cikunir, Mei 2017 lalu? Kasus yang ada di dunia nyata itu mungkin tak akan terungkap kalau tidak ada sebuah akun Facebook yang meng-upload kejadian tersebut.

Menurut akun itu, sang perwira tadi mengendarai mobil di ruas jalan tol yang macet. Mungkin jengkel dengan kemacetan, dan perwira itu merasa jalannya terhalang oleh bus, ia dengan tongkatnya memukul pecah kaca samping bus.

Semula perwira tadi mengaku mobilnya diserempet bus. Namun, tak ada bukti soal serempetan itu. Akun itu menulis, “Ngaku spionnya kesenggol sampai lecet, tetapi di rekaman tidak ada lecet sama sekali. Diminta pertanggungjawaban malah kabur.” Unggahan tersebut kemudian ramai dibicarakan netizen.

Puspen TNI merespon terlebih dahulu. Melalui akun instagram, Puspen TNI meminta maaf kepada PO bus tersebut. Lalu, menyusul sang perwira juga mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Ia siap bertanggung jawab untuk mengganti kerugian bus.

Ini bukti betapa dunia digital kita sudah menyatu dengan dunia nyata.

Mau bukti lainnya?

Masih ingat kasus seorang pegawai perempuan yang bekerja di Mahkamah Agung (MA) yang marah-marah dan mencakar Aiptu Sutisna saat petugas polisi itu hendak menilangnya?  Sutisna tidak melawan, ia hanya menghindar. Ini peristiwa yang terjadi di dunia nyata.

Adegan amukan pegawai MA itu kemudian muncul di dunia maya. Seorang netizen merekamnya dan meng-upload videonya ke akun Facebook. Peristiwa itu pun menjadi viral.

Berkat sikapnya yang tidak melawan, Aiptu Sutisna mendapatkan apresiasi bukan hanya dari masyarakat, tetapi juga dari Kepolisian RI. Sementara, sang pegawai MA tadi dimutasi dari jabatannya di Eselon IV menjadi staf di PTUN Pekanbaru.

Pengalaman Sandvik

Saya tadi menyinggung soal betapa repotnya kalau gagal paham menyatunya dunia maya dengan dunia nyata sampai berlarut-larut. Sebab di belahan dunia sana, masyarakatnya—terutama kalangan korporasi—sudah menikmati hasil dari penyatuan dua dunia tersebut.

Salah satu contohnya Sandvik Coromant (SC), perusahaan asal Swedia yang menjadi produsen utama cemented carbide dunia. Cemented carbide adalah material yang biasa dipakai pada mesin pemotong material logam non baja dan banyak dipakai oleh industri manufaktur. Bisnis SC sempat terpuruk lantaran hadirnya produk China yang lebih murah.

Lalu, apa yang dilakukan SC?

SC lalu melengkapi mesin pemotongnya dengan sensor. Sensor itu berfungsi memantau kinerja cemented carbide. Kapan alat itu terlalu stres, sudah aus dan tiba waktunya untuk diganti. Data dari sensor tersebut kemudian dikirim ke server, dan oleh server didistribusikan ke pihak-pihak yang mesti tahu soal ini. Di antaranya, general manager, manajer atau supervisor di pabrik.

Bagi banyak pabrik, informasi semacam ini sangat penting. Jangan sampai pabrik berhenti beroperasi gara-gara mesin pemotong non logamnya rusak. Biayanya untuk shutdown dan menghidupkan kembali bisa sangat mahal.

Informasi semacam inilah yang kemudian menjadi nilai lebih bagi SC ketimbang produk sejenis dari China. Pelanggan pun beralih dari produk buatan China ke buatan SC.

Itu contoh kasus di dunia korporasi yang memakai teknologi untuk menggabungkan dunia digital (informasi dari sensor) dengan dunia nyata (pekerjaan di pabrik). Kasus lainnya masih banyak.

Misalnya, ada Rolls Royce yang memasang sensor di mesin pesawat terbang. Ketika pesawat masih berada di udara, kondisi mesin sudah terpantau. Saat mendarat, kalau ada komponen mesin yang perlu diganti, itu bisa langsung dilakukan tanpa pesawat perlu masuk hanggar. Jadi pesawat bisa langsung terbang lagi. Ini tentu meningkatkan kinerja operasional pesawat.

Dunia 4.0

Dalam lingkungan masyarakat, para petugas layanan publik bisa memantau sejumlah kejadian dengan adanya CCTV. Ingat dengan pebalap MotoGP Nicky Hayden yang meninggal dunia akibat tertabrak mobil? Melalui CCTV, pihak kepolisian mendapati bahwa Nicky Hayden lalai.

Ia bersepeda sambil mendengarkan musik melalui iPod. Akibatnya ia tak mendengar suara-suara yang ada di sekitarnya, termasuk mobil-mobil yang lalu lalang di perempatan jalan. Salah satu mobil itulah kemudian kemudian menabrak Hayden.

Belajar dari kejadian itu, kita mungkin bisa memprakarsai gerakan no gadget saat melakukan aktivitas di area-area publik. Kini kita sudah memasuki dunia versi 4.0. Dunia maya atau digital dan dunia nyata sudah menyatu. Namun, banyak musibah terjadi akibat masyarakat kita masih merasa seolah-olah berada di dua dunia yang berbeda.

Misalnya, terus saja memakai smartphone saat menyetir mobil atau mengendarai sepeda motor—sesuatu yang banyak kita jumpai di masyarakat kita. Juga, terus memakai smarphone saat tengah berjalan di trotoar atau area publik lainnya. Ini fenomena yang ada di mana-mana. Mereka berjalan seenaknya sambil matanya tak henti menatap layar smartphone dan tangannya terus mengetik.

Padahal, sudah banyak video yang menayangkan orang-orang yang kesandung, terperosok lubang karena terlalu asyik dengansmartphone-nya. Atau, menabrak orang lain yang melintas di hadapannya, menabrak tiang atau pintu, bahkan ketabrak sepeda, sepeda motor hingga mobil akibat menyebrang jalan secara sembarangan.

Di Jerman, seorang petugas pengatur sinyal dituding bertanggung jawab atas kecelakaan kereta yang menyebabkan 150 orang luka-luka dan menewaskan 11 orang. Menurut jaksa, sesaat sebelum kecelakaan terjadi, petugas tadi asyik bermain game online via ponselnya. Akibatnya ia menekan tombol yang salah. Informasi yang salah itulah yang diterima oleh dua masinis dari dua kereta berbeda. Dan, kecelakaan pun tak terelakkan.

Di dunia 4.0, era di mana semua serba terkoneksi, kita tak mau ada masyarakat yang gagal paham bahwa dunia digital sudah menyatu dengan dunia nyata. Sebab risikonya bisa sangat fatal.

Rhenald Kasali

Founder Rumah Perubahan

Mooryati Soedibyo, Dian Sastro, dan Metakognisi Susi Pudjiastuti by Rheinald Kasali


Rhenald Kasali
@Rhenald_Kasali

Saya kebetulan mentor bagi dua orang ini: Dian Sastro dan Mooryati Soedibyo. Akan tetapi, pada Susi Pudjiastuti yang kini menjadi menteri, saya justru belajar.

Ketiganya perempuan hebat, tetapi selalu diuji oleh sebagian kecil orang yang mengaku pandai. Entah ini stereotyping, atau soal buruknya metakognisi bangsa. Saya kurang tahu persis.

Mooryati Soedibyo

Sewaktu diterima di program doktoral UI yang pernah saya pimpin, usianya saat itu sudah 75 tahun. Namun, berbeda dengan mahasiswa lain yang datang pakai jins, dia selalu berkebaya. Anda tentu tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkebaya, bukan?

Mooryati Soedibyo, pengusaha jamu dan kosmetika tradisional (KOMPAS/AGUS SUSANTO)

Akan tetapi, ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain: self discipline. Sampai hari ini, dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal, saat itu ia salah satu pimpinan MPR.

Memang ia tampak sedikit kewalahan “bersaing” dengan rekan kuliahnya yang jauh lebih muda. Akan tetapi, rekan-rekan kuliahnya mengakui,  kemajuannya cepat. Dari bahasa jamu ke bahasa strategic management dan science yang banyak aturannya.

Teman-teman belajarnya bersaksi: “Pukul 08.00 malam, kami yang memimpin diskusi. Tetapi pukul 24.00, yang muda mulai ngantuk, Ibu Moor yang memimpin. Dia selalu mengingatkan tugas harus selesai, dan tak boleh asal jadi.”

Masalahnya, ia pemilik perusahaan besar, dan usianya sudah lanjut. Ada stereotyping dalam kepala sebagian orang. Sosok seperti ini jarang ada yang mau kuliah sungguhan untuk meraih ilmu. Nyatanya, kalangan berduit lebih senang meraih gelar doktor HC (honoris causa) yang jalurnya cukup ringan.

Akan tetapi, Mooryati tak memilih jalur itu. Ia ingin melatih kesehatan otaknya, mengambil risiko dan lulus 4 tahun kemudian. Hasil penelitiannya menarik perhatian Richard D’aveni (Tuck School-USA), satu dari 50 guru strategi teratas dunia. Belakangan, ia juga sering diminta memaparkan kajian risetnya di Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

Meski diuji di bawah guru besar terkemuka Prof Dorodjatun Kuntjoro Jakti, kadang saya masih mendengar ucapan-ucapan miring dari orang-orang yang biasa menggunakan kacamata buram dan lidahnya pahit. Ada saja orang yang mengatakan ia “diluluskan” dengan bantuan, “sekolahnya hanya dua tahun”, dan seterusnya. Anehnya, kabar itu justru beredar di kalangan perempuan yang tak mau tahu keteladanan yang ia tunjukkan. Kadang ada juga yang merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya terjadi.

Akan tetapi, ada satu hal yang sulit mereka sangkal. Perempuan yang meraih doktor pada usia 79 tahun ini berhasil mewujudkan usahanya menjadi besar tanpa fasilitas. Perusahaannya juga go public. Padahal, yang menjadi dosennya saja belum tentu bisa melakukan hal itu, bahkan membuat publikasi ilmiah internasional saja tidak. Namun, Bu Moor juga berhasil mengangkat reputasi jamu di pentas dunia.

Dian Sastro

Dia juga mahasiswi saya yang keren. Sewaktu diterima di program S-2 UI, banyak juga yang bertanya: apa benar artis mau bersusah payah belajar lagi di UI?

Anak-anak saya di UI tahu persis bahwa saya memang cenderung bersahabat, tetapi mereka juga tahu sikap saya: “no bargain on process and quality“.

Model dan artis peran Dian Sastrowardoyo (KOMPAS IMAGES/BANAR FIL ARDHI)

Dian, sudah artis, dan sedang hamil pula saat mulai kuliah. Urusannya banyak: keluarga, film, dan seabrek tugas. Namun lagi-lagi, satu hal ini jarang dimiliki yang lain: self discipline. Ia tak pernah abai menjalankan tugas.

Sebulan yang lalu, setelah lulus dengan cum laude dari MM UI, ia berbagi pengalaman hidupnya di program S-1 pada kelas yang saya asuh.

“Saat ayah saya meninggal dunia, ibu saya berujar: kamu bukan anak orang kaya. Ibu tak bisa menyekolahkan kalau kamu tidak outstanding,” ujarnya.

Ia pun melakukan riset terhadap putri-putri terkenal. Di situ ia melihat nama-nama besar yang tak lahir dari kemudahan. “Saya tidak cantik, dan tak punya apa-apa,” ujarnya.

Dengan uang sumbangan dari para pelayat ayahnya, ia belajar di sebuah sekolah kepribadian. Setiap pagi, ia juga melatih disiplin, jogging berkilo-kilometer dari Jatinegara hingga ke Cawang, ikut seni bela diri. “Mungkin kalian tak percaya karena tak pernah menjalaninya,” ujarnya.

Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi. Dian lulus cum laude dari S-2 UI, dari ilmu keuangan pula, yang sarat matematikanya. Padahal, bidang studi S-1 Dian amat berjauhan: filsafat.

Metakognisi Susi

Sekarang kita bahas menteri kelautan dan perikanan yang ramai diolok-olok karena “sekolahnya”. Beruntung, banyak juga yang membelanya.

Khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya. Ia terlalu hebat. Ia justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah “self driver” sejati, yang bukan putus sekolah, melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini, saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu?

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (SABRINA ASRIL/KOMPAS.com)

Akan tetapi, berbeda dengan kebanyakan orangtua yang membiarkan anaknya menjadi “passenger“, ayah Susi justru marah besar. Pada usia muda, di pesisir selatan yang terik, Susi  memaksa hidup mandiri. Ditemani sopir, ia menyewa truk dari Pangandaran, membawa ikan dan udang, dilelang di Jakarta. Hal itu dijalaninya selama bertahun-tahun, seorang diri.

Saat saya mengirim mahasiswa pergi “melihat pasar” ke luar negeri yang terdiri dari tiga orang untuk satu negara, Susi membujuk saya agar cukup satu orang satu negara. Saya menurutinya (kisah mereka bisa dibaca dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor).

Dari usaha perikanannya itu, ia jadi mengerti penderitaan yang dialami nelayan. Ia juga belajar seluk-beluk logistik ikan, menjadi pengekspor, sampai terbentuk keinginan memiliki pesawat agar ikan tangkapan nelayan bisa diekspor dalam bentuk hidup, yang nilainya lebih tinggi. Dari ikan, jadilah bisnis carter pesawat, yang di bawahnya ada tempat penyimpanan untuk membawa ikan segar.

Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa hanya dibangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan rahasia alam. Kita juga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Akan tetapi, tanpa kemampuan nonkognisi, semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi metakognisi: faktor pembentuk yang paling penting di balik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia, dan praktisi-praktisi andal. Kemampuan bergerak, berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek, berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari “pintu” adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang  produktif.

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya tangguh, bijak mengatasi masalah, mampu mengambil keputusan, bisa membuat kehidupan lebih produktif dan penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja, kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekadar mampu mendengar, tetapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif.

Ketiga orang itu mungkin tak sehebat Anda yang senang melihat kecerdasan orang dari pendekatan kognitif yang bermuara pada angka, teori, ijazah, dan stereotyping. Akan tetapi, saya harus mengatakan, studi-studi terbaru menemukan, ketidakmampuan meredam rasa tidak suka atau kecemburuan pada orang lain, kegemaran menyebarkan fitnah dan rasa benar sendiri, hanya akan menghasilkan kesombongan diri.

Anak-anak kita pada akhirnya belajar dari kita, dan apa yang kita ucapkan dalam kesaharian kita juga akan membentuk mereka, dan masa depan mereka.

 

 

*disadur dari http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/11/03/054500426/Mooryati.Soedibyo.Dian.Sastro.dan.Metakognisi.Susi.Pudjiastuti


#pathdaily

View on Path


livestreaming….. main + backup… – with Diki, eko, and Andriawan D at Suroboyo Carnival Night Market

View on Path

Watching Fast & Furious 7


Sweet ending…. Tribute to paul…

Watching Fast & Furious 7 with Henny at Bintaro XChange XXI

View on Path


Pantai sawarna 4 tahun lalu masih bersih gini… Dan sepi… Berasa pantai milik sendiri… – with Henny

View on Path


#sawarnabeach 4 tahun lalu – with Henny

View on Path


Pemerintah kerjanya ngapain aja sih!!! – at Atrium Mulia

View on Path